Adaptasi di Era Perubahan: Ketika Melihat Rekan Kerja Melaju Lebih Cepat

Di era digital, kita bisa melihat pencapaian banyak orang hampir setiap hari.

KARYAWANPERUSAHAANPENGEMBANGAN KARYAWAN

Andhika Buana

8/29/20263 min read

Suatu pagi Anda membuka LinkedIn, seorang teman mengumumkan promosi jabatan. Siangnya, ada rekan lain yang membagikan sertifikasi internasional yang baru ia selesaikan. Malamnya, teman kuliah Anda mengunggah kabar bahwa ia baru diterima di perusahaan impiannya.

Lalu tanpa sadar muncul pertanyaan yang mungkin pernah dirasakan banyak orang:

"Kok semua orang terlihat maju lebih cepat?"
"Apa saya yang kurang berusaha?"
"Kenapa saya merasa tertinggal?"

Padahal beberapa menit sebelumnya, Anda merasa baik-baik saja.

Ketika Dunia Kerja Terasa Seperti Perlombaan

Di era digital, kita bisa melihat pencapaian banyak orang hampir setiap hari, promosi jabatan, pindah ke perusahaan baru, lulus pendidikan lanjutan, mendapat penghargaan, memulai bisnis, dan mencapai target finansial tertentu.

Masalahnya bukan pada pencapaian tersebut, masalahnya adalah kita sering melihat hasil akhir tanpa melihat proses panjang yang terjadi di belakangnya. Akhirnya dunia kerja terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai.

Selalu ada orang yang terlihat lebih cepat, lebih sukses, lebih maju.

Mengapa Kita Sering Membandingkan Diri?

Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai Social Comparison Theory, teori yang diperkenalkan oleh psikolog Leon Festinger. Teori ini menjelaskan bahwa manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain untuk memahami posisi dan kemampuannya.

Perbandingan itu sebenarnya normal, bahkan bisa menjadi sumber motivasi. Namun ketika dilakukan terus-menerus tanpa konteks yang utuh, perbandingan dapat berubah menjadi sumber tekanan psikologis.

Kita mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri, merasa kurang berhasil atau menganggap perjalanan karier kita tidak cukup baik.

Yang Tidak Terlihat dari Sebuah Pencapaian

Sering kali kita melihat seseorang yang berhasil mencapai posisi tertentu, yang terlihat adalah jabatannya, yang tidak terlihat adalah perjalanan yang membawanya ke sana.

Mungkin ia memiliki mentor yang membimbingnya selama bertahun-tahun, mungkin ia memiliki waktu lebih banyak untuk belajar setelah jam kerja, mungkin ia mengambil risiko yang tidak bisa diambil semua orang atau mungkin ia juga pernah mengalami kegagalan yang tidak pernah ia ceritakan di media sosial.

Karena itulah membandingkan perjalanan karier sering kali menjadi tidak adil. Kita membandingkan keseluruhan hidup kita dengan sebagian kecil informasi tentang kehidupan orang lain.

Tidak Semua Orang Memulai dari Garis Start yang Sama

Dua orang bisa lulus kuliah pada tahun yang sama, masuk dunia kerja pada waktu yang sama. Namun menjalani realitas yang sangat berbeda, ada yang bisa fokus membangun karier, ada yang harus membantu ekonomi keluarga, ada yang memiliki ruang untuk mengambil risiko, ada yang harus memastikan kebutuhan bulan depan tetap terpenuhi, ada yang dapat mengikuti pelatihan tambahan setiap akhir pekan, ada yang menghabiskan akhir pekannya untuk memulihkan energi agar dapat kembali bekerja pada hari Senin.

Ketika kondisi awal berbeda, kecepatan perjalanan karier pun tidak selalu sama.

Resiliensi Bukan Tentang Menjadi yang Paling Cepat

Ketika mendengar kata resilience, banyak orang membayangkan kemampuan untuk bangkit setelah gagal. Padahal dalam dunia kerja modern, resiliensi sering kali muncul dalam bentuk yang lebih sederhana. Resiliensi adalah kemampuan untuk tetap berjalan meskipun perjalanan orang lain terlihat lebih cepat.

Resiliensi adalah kemampuan untuk tetap belajar ketika hasil belum terlihat. Resiliensi adalah kemampuan untuk tetap percaya pada proses diri sendiri meskipun lingkungan terus menunjukkan pencapaian orang lain, karena tidak semua pertumbuhan dapat diukur dari jabatan. Tidak semua kemajuan dapat dilihat dari jumlah sertifikasi, dan tidak semua keberhasilan muncul dalam waktu yang sama.

Di Era Perubahan, Fokus Terbesar Adalah Adaptasi

Dunia kerja saat ini berubah jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya, teknologi berkembang, peran pekerjaan berubah, kompetensi baru terus bermunculan. Dalam situasi seperti ini, membandingkan diri dengan orang lain sering kali justru membuat energi habis untuk hal yang tidak dapat dikendalikan.

Sebaliknya, karyawan yang mampu beradaptasi biasanya lebih fokus pada pertanyaan:
"Apa yang bisa saya pelajari hari ini?"

daripada:
"Kenapa orang lain lebih cepat dari saya?"

Karena yang menentukan keberlanjutan karier bukan hanya kecepatan, tetapi kemampuan untuk terus berkembang ketika kondisi berubah.

Pelajaran untuk Karyawan dan Organisasi

Bagi karyawan, penting untuk mengingat bahwa setiap orang memiliki jalur karier yang berbeda. Tidak semua orang berada pada fase kehidupan yang sama, tidak semua orang menghadapi tantangan yang sama.

Bagi organisasi, hal ini menjadi pengingat bahwa pengembangan karyawan tidak hanya berbicara tentang kompetensi, tetapi juga tentang bagaimana membantu individu membangun kepercayaan diri, resiliensi, dan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi perubahan. Karena karyawan yang resilien bukanlah mereka yang tidak pernah merasa tertinggal.

Melainkan mereka yang tetap bergerak maju meskipun sesekali merasakan hal tersebut.

Mungkin ada kalanya kita melihat orang lain melangkah lebih cepat, mendapat promosi lebih dulu, mencapai target lebih awal atau menemukan jalannya lebih cepat. Namun perjalanan karier bukanlah perlombaan dengan garis finis yang sama.

Setiap orang membawa tantangan, tanggung jawab, dan cerita yang berbeda. Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:
"Apakah saya tertinggal dari orang lain?"

Melainkan:
"Apakah saya bertumbuh dibandingkan diri saya yang kemarin?"

Pertanyaan untuk kamu

Apa yang lebih sering membuat Anda merasa tertinggal dalam karier: pencapaian rekan kerja, media sosial profesional seperti LinkedIn, atau ekspektasi yang Anda pasang terhadap diri sendiri?

Our Social Media :

Email address :

Need help?

0857-7562-0778

© 2025. All rights reserved.

Mobile number :

helloadc@aditidevelopmentcenter.com

Consultation (WA) :

0857-7562-0778

address :

Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.

Group :