Apple Punya CEO Baru, Mengapa Lapisan Manajemen Justru Dipangkas? Pelajaran PIO tentang Efisiensi Organisasi

Hal inilah yang menarik dari langkah John Ternus setelah resmi menjadi CEO Apple pada September 2026.

PEMIMPINPERUSAHAANKARYAWAN

Andhika Buana

10/11/20264 min read

Sebuah perusahaan bisa memiliki karyawan berbakat, teknologi canggih, dan anggaran besar, tetapi tetap kesulitan bergerak cepat. Salah satu penyebabnya bisa jadi bukan kurangnya kemampuan karyawan, melainkan cara organisasi mengatur pekerjaan dan mengambil keputusan.

Hal inilah yang menarik dari langkah John Ternus setelah resmi menjadi CEO Apple pada September 2026.

Ternus dikabarkan ingin membuat Apple lebih ramping, memperkuat peran tim teknik, dan mempercepat pengembangan produk. Salah satu perubahan yang menjadi sorotan adalah pengurangan sejumlah Engineering Program Manager (EPM) di divisi rekayasa perangkat keras Apple. Posisi ini sebelumnya berperan mengatur jadwal dan mengoordinasikan pekerjaan lintas tim agar pengembangan produk berjalan sesuai rencana.

Menurut laporan TechTimes yang merujuk pada pelaporan Bloomberg, sejumlah EPM terdampak perubahan tersebut, termasuk beberapa direktur. Mereka diberi kesempatan mencari posisi lain di internal perusahaan; mereka yang tidak mendapatkan posisi baru berpotensi terkena pemutusan hubungan kerja.

Langkah ini memunculkan pertanyaan penting: mengapa perusahaan sebesar Apple justru ingin mengurangi lapisan koordinasi yang selama ini membantu mengelola proyek kompleks?

Dari perspektif Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), jawabannya berkaitan dengan bagaimana struktur organisasi dirancang untuk mendukung kinerja bisnis.

Ketika Struktur Organisasi Justru Memperlambat Pekerjaan

Dalam organisasi besar, pembagian peran dan lapisan manajemen dibutuhkan untuk mengatur tanggung jawab, mengoordinasikan tim, serta memastikan keputusan dibuat dengan mempertimbangkan berbagai aspek.

Namun, semakin banyak lapisan koordinasi juga dapat meningkatkan jumlah komunikasi dan persetujuan yang dibutuhkan sebelum sebuah keputusan dijalankan.

Bayangkan sebuah tim teknik menemukan masalah pada pengembangan produk. Untuk menyelesaikannya, tim tersebut harus melaporkan masalah kepada beberapa pihak, menunggu persetujuan, lalu menyampaikan kembali keputusan kepada anggota tim yang mengerjakan produk.

Jika proses ini tidak memberikan nilai tambah yang sepadan, waktu dan energi tim dapat terserap untuk mengelola proses, bukan menyelesaikan masalah.

Dalam PIO, persoalan ini berkaitan dengan organizational design, yaitu bagaimana perusahaan menyusun struktur, peran, wewenang, dan hubungan kerja agar tujuan organisasi dapat dicapai secara efektif.

Struktur yang baik bukan berarti struktur yang paling sederhana atau memiliki jabatan paling sedikit. Struktur yang baik adalah struktur yang membantu pekerjaan berjalan dengan jelas, koordinasi berlangsung efektif, dan keputusan dapat diambil pada tingkat yang tepat.

Karena itu, langkah Ternus dapat dibaca sebagai upaya menguji kembali apakah setiap lapisan koordinasi masih diperlukan dalam model operasional Apple yang ingin bergerak lebih cepat. Namun, belum ada bukti bahwa pengurangan EPM dengan sendirinya akan meningkatkan produktivitas atau mempercepat peluncuran produk.

Memangkas Jabatan Tidak Sama dengan Menghilangkan Pekerjaan

Ada satu hal yang tidak boleh luput ketika membahas efisiensi organisasi: jabatan bisa dihapus, tetapi fungsi pekerjaan yang dijalankannya belum tentu ikut hilang.

EPM di Apple bukan sekadar perantara komunikasi. Mereka membantu mengelola jadwal, memantau ketergantungan antartim, dan mengoordinasikan berbagai pekerjaan yang harus selesai agar sebuah produk dapat dikembangkan sesuai rencana.

Jika fungsi tersebut tidak lagi dijalankan oleh EPM, seseorang atau tim lain perlu mengambil alih tanggung jawabnya.

Misalnya, insinyur yang sebelumnya dapat berfokus pada pengembangan teknis mungkin kini harus lebih banyak mengatur jadwal, berkoordinasi dengan tim lain, atau menyelesaikan konflik prioritas.

Perubahan seperti ini dapat berjalan baik apabila tanggung jawab baru disertai kejelasan wewenang, kapasitas, dan dukungan yang memadai. Sebaliknya, jika pekerjaan hanya dipindahkan tanpa perencanaan, perusahaan berisiko menciptakan beban tambahan dan hambatan baru.

Dalam PIO, hal ini berkaitan dengan role clarity dan job design.

Role clarity berarti setiap orang memahami tanggung jawab, batas wewenang, dan ekspektasi terhadap pekerjaannya. Sementara itu, job design berkaitan dengan bagaimana tugas dan tanggung jawab disusun agar pekerjaan dapat dilakukan secara efektif.

Artinya, ketika sebuah perusahaan memangkas lapisan manajemen, pertanyaan pentingnya bukan hanya siapa yang tidak lagi dibutuhkan, melainkan juga siapa yang akan menjalankan fungsi penting yang sebelumnya dikerjakan oleh posisi tersebut.

Efisiensi Harus Diukur dari Hasil, Bukan Sekadar Pengurangan Biaya

Perubahan yang dilakukan Ternus juga mencerminkan fokus pada organisasi yang lebih ramping dan pengembangan produk yang lebih cepat. Reuters melaporkan bahwa arah perubahan Apple mencakup pengurangan lapisan manajemen menengah serta upaya mempercepat inovasi dan memperluas lini produk.

Namun, dari sudut pandang PIO, efisiensi tidak cukup diukur melalui berkurangnya jumlah karyawan, jabatan, atau anggaran.

Perusahaan perlu melihat apakah perubahan tersebut benar-benar menghasilkan perbaikan kinerja. Beberapa indikator yang dapat diperhatikan antara lain:

  • Kecepatan pengambilan keputusan: apakah masalah dapat diselesaikan dengan lebih cepat?

  • Waktu penyelesaian proyek: apakah pengembangan produk menjadi lebih singkat tanpa mengorbankan kualitas?

  • Kejelasan akuntabilitas: apakah setiap tim memahami siapa yang bertanggung jawab atas keputusan dan hasil kerja?

  • Beban kerja: apakah pekerjaan menjadi lebih efisien atau justru menumpuk pada karyawan yang tersisa?

  • Kualitas kolaborasi: apakah koordinasi antartim semakin baik atau justru semakin sering terjadi miskomunikasi?


Indikator tersebut membantu perusahaan membedakan efisiensi yang benar-benar meningkatkan kinerja dari penghematan yang hanya terlihat baik di atas kertas.

Sebab, pengurangan biaya yang diikuti penurunan kualitas, keterlambatan proyek, atau meningkatnya beban kerja belum tentu menghasilkan organisasi yang lebih efektif.

Jadi, Bagaimana Perusahaan Menentukan Lapisan yang Perlu Dipertahankan?

Kasus Apple memberikan pelajaran bahwa struktur organisasi tidak seharusnya dipertahankan hanya karena sudah lama digunakan. Namun, struktur juga tidak seharusnya diubah hanya demi terlihat lebih ramping.

Perusahaan perlu mengevaluasi kontribusi setiap peran dan proses terhadap tujuan bisnis.

Apakah sebuah jabatan membantu menyelesaikan masalah, mengurangi risiko, dan memperkuat koordinasi? Atau justru menambah persetujuan tanpa memperjelas keputusan?

Apakah proses pelaporan membantu pemimpin memahami kondisi operasional? Atau membuat informasi terlambat sampai kepada pihak yang dapat mengambil tindakan?

Pertanyaan semacam ini perlu dijawab berdasarkan data kinerja, alur kerja, waktu penyelesaian, dan pengalaman karyawan. Dengan begitu, keputusan restrukturisasi tidak hanya didasarkan pada asumsi bahwa lebih sedikit lapisan pasti lebih baik.

Perusahaan juga perlu memantau dampak perubahan setelah diterapkan. Struktur yang terlihat efektif di atas kertas belum tentu berjalan efektif dalam praktik, terutama ketika hubungan kerja, distribusi beban, dan tanggung jawab ikut berubah.

Efisiensi Organisasi Dimulai dari Memahami Cara Kerja

Perubahan di Apple mengingatkan kita bahwa kinerja perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh sistem yang menghubungkan pekerjaan mereka.

Karyawan yang kompeten tetap dapat menghadapi hambatan jika wewenangnya tidak jelas, proses persetujuan terlalu panjang, atau koordinasi antartim tidak berjalan efektif. Sebaliknya, struktur yang dirancang dengan tepat dapat membantu orang mengambil keputusan dan menggunakan keahliannya secara lebih optimal.

Karena itu, tantangan bagi pemimpin bukan sekadar memangkas jabatan atau meminta karyawan menghasilkan lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit. Tantangannya adalah memahami bagian mana dari sistem kerja yang benar-benar menciptakan nilai dan bagian mana yang perlu diperbaiki.

Organisasi yang efektif bukan organisasi dengan lapisan paling sedikit, melainkan organisasi yang memastikan setiap peran, proses, dan sumber daya memiliki kontribusi yang jelas terhadap kinerja bisnis.

Our Social Media :

Email address :

Need help?

0857-7562-0778

© 2025. All rights reserved.

Mobile number :

aditidevelopmentcenter@gmail.com

Consultation (WA) :

0857-7562-0778

address :

Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.

Group :