Bisa Memilih Pekerjaan adalah Privilege: Kenapa Ada Orang yang Lebih Cepat Berkembang daripada Kita?
Pernah merasa sudah berusaha keras mempelajari sesuatu, tetapi hasilnya masih biasa saja?
KARYAWANPENGEMBANGAN KARYAWANGEN Z
Andhika Buana
10/13/20264 min read


Pernah merasa sudah berusaha keras mempelajari sesuatu, tetapi hasilnya masih biasa saja?
Sementara itu, ada teman yang baru beberapa kali mencoba, tetapi sudah terlihat mahir. Mereka cepat memahami instruksi, mudah menemukan solusi, bahkan terlihat lebih siap ketika menghadapi tantangan baru.
Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri sendiri dengan mereka.
“Kenapa dia bisa cepat paham, sedangkan saya harus belajar berkali-kali?”
“Jangan-jangan saya memang kurang pintar?”
“Apakah saya tidak punya bakat untuk berkembang di bidang ini?”
Pertanyaan seperti ini sering muncul ketika kita merasa tertinggal dalam pekerjaan. Namun, sebelum menyimpulkan bahwa diri kita kurang kompeten, ada beberapa hal yang perlu dipahami: setiap orang memiliki kemampuan, pengalaman, kesempatan, dan kondisi yang berbeda untuk berkembang.
Cepat Memahami Sesuatu Bukan Satu-satunya Ukuran Kompetensi
Dalam dunia kerja, kemampuan kognitif memang berperan dalam proses belajar dan penyelesaian tugas. Namun, kemampuan tersebut bukan satu-satunya faktor yang menentukan performa seseorang. Pengetahuan tentang pekerjaan, pengalaman, karakteristik individu, dan situasi kerja juga perlu diperhitungkan.
Bayangkan dua karyawan yang baru mendapatkan tugas serupa.
Karyawan pertama pernah mengerjakan proyek yang mirip. Ia sudah memahami istilah yang digunakan, mengenali pola masalahnya, dan mengetahui langkah yang perlu dilakukan.
Sementara itu, karyawan kedua belum pernah menghadapi tugas tersebut. Ia masih perlu mempelajari konsep dasarnya, memahami instruksi, dan mencoba beberapa pendekatan sebelum menemukan cara yang tepat.
Jika keduanya dinilai hanya berdasarkan siapa yang paling cepat menyelesaikan tugas, karyawan pertama mungkin terlihat lebih kompeten.
Padahal, perbedaan tersebut belum tentu menunjukkan bahwa karyawan kedua tidak memiliki potensi. Bisa jadi, ia memang belum memiliki bekal pengetahuan dan pengalaman yang sama.
Inilah mengapa kecepatan memahami sesuatu tidak seharusnya langsung disamakan dengan kemampuan berkembang. Kita perlu melihat apa yang sudah dikuasai seseorang, apa yang masih perlu dipelajari, dan bagaimana proses belajarnya berlangsung.
Kecocokan Pekerjaan Juga Memengaruhi Perkembangan Seseorang
Dalam Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), terdapat konsep Person–Job Fit, yaitu kesesuaian antara karakteristik individu dan tuntutan pekerjaannya.
Setiap pekerjaan membutuhkan kombinasi kemampuan yang berbeda. Ada pekerjaan yang menuntut ketelitian tinggi, ada yang membutuhkan kemampuan analisis, dan ada pula yang lebih banyak mengandalkan komunikasi, kreativitas, atau pengambilan keputusan.
Seseorang mungkin kesulitan ketika harus mengerjakan tugas yang belum sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Namun, ketika mendapatkan tugas yang lebih sesuai dengan kekuatannya, ia bisa menunjukkan performa yang berbeda.
Misalnya, seseorang yang kesulitan menyusun laporan berbasis angka mungkin justru unggul ketika harus menjelaskan ide, memahami kebutuhan audiens, atau menyusun strategi komunikasi.
Apakah itu berarti ia tidak mampu berkembang dalam pekerjaan yang melibatkan angka? Belum tentu. Ia mungkin membutuhkan waktu, latihan, metode belajar, dan dukungan yang lebih tepat.
Artinya, mengenali kecocokan pekerjaan bukan tentang mencari pekerjaan yang selalu mudah. Ini tentang memahami hubungan antara kemampuan yang dimiliki, tuntutan pekerjaan, dan kompetensi yang masih perlu dikembangkan.
Penelitian tentang Person–Job Fit juga menunjukkan bahwa kesesuaian individu dengan pekerjaan berkaitan dengan berbagai hasil kerja dan pengalaman karyawan. Namun, kecocokan bukan jaminan keberhasilan dan bukan alasan untuk berhenti mengembangkan kemampuan.
Namun, Tidak Semua Orang Punya Privilege untuk Memilih Pekerjaan
Ada satu hal lain yang sering luput ketika kita membicarakan perkembangan karier: tidak semua orang memiliki keleluasaan yang sama untuk memilih pekerjaan.
Sebagian orang bisa mempertimbangkan apakah pekerjaan sesuai dengan minat, kemampuan, dan tujuan kariernya. Mereka mungkin memiliki kesempatan untuk mengikuti pelatihan, mengambil pekerjaan dengan prospek jangka panjang, atau meninggalkan lingkungan kerja yang tidak sesuai.
Namun, bagi orang lain, keputusan karier tidak sesederhana itu.
Ada yang harus segera mendapatkan penghasilan untuk membantu keluarga. Ada yang perlu mempertahankan pekerjaan karena memiliki tanggungan. Ada pula yang ingin berpindah bidang, tetapi terbatas oleh biaya pendidikan, akses terhadap pelatihan, atau minimnya lowongan yang tersedia.
Dalam kondisi seperti ini, seseorang mungkin tetap bertahan di pekerjaan yang kurang sesuai bukan karena tidak mengenali potensinya, melainkan karena belum memiliki cukup ruang untuk mengambil risiko.
Kajian mengenai latar belakang sosial dan keberhasilan karier menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan, sumber daya, dan kesempatan dapat ikut membentuk perbedaan perjalanan karier seseorang.
Karena itu, ketika melihat seseorang berkembang lebih cepat daripada orang lain, kita tidak selalu mengetahui seluruh kondisi yang mendukung perjalanan mereka.
Begitu pula sebaliknya, ketika seseorang terlihat lambat berkembang, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa ia kurang berusaha.
Hasil yang terlihat hari ini tidak selalu menggambarkan seluruh kesempatan yang dimiliki seseorang sejak awal.
Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Memahami bahwa setiap orang memiliki titik awal yang berbeda bukan berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa. Justru, pemahaman ini bisa membantu kita mengevaluasi perkembangan karier secara lebih realistis.
Pertama, kenali kemampuan yang sudah dimiliki dan kompetensi yang masih perlu dikembangkan. Daripada hanya berkata, “Saya memang tidak pintar,” cobalah mengidentifikasi bagian pekerjaan yang sebenarnya membuat kita kesulitan.
Apakah kita belum memahami konsep dasarnya? Apakah kita kurang mendapatkan arahan? Atau apakah kita membutuhkan lebih banyak latihan untuk menguasai keterampilan tertentu?
Kedua, evaluasi kecocokan antara diri kita dan pekerjaan yang dijalani. Apakah tuntutan pekerjaan sesuai dengan kompetensi saat ini? Apakah ada kemampuan yang perlu diperkuat? Apakah lingkungan kerja memberikan kesempatan untuk belajar dan menerima umpan balik?
Ketiga, tentukan langkah pengembangan yang realistis sesuai kondisi. Tidak semua orang bisa langsung mengikuti pelatihan berbayar, mengambil pendidikan lanjutan, atau berpindah pekerjaan. Pengembangan juga bisa dimulai dengan meminta umpan balik, mempelajari keterampilan yang relevan secara bertahap, dan mencari kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan baru.
Pada saat yang sama, organisasi juga memiliki peran penting. Perusahaan perlu menyediakan ekspektasi kerja yang jelas, proses evaluasi yang relevan dengan kompetensi, umpan balik yang konstruktif, serta kesempatan pengembangan yang dapat diakses karyawan.
Dengan begitu, perkembangan tidak hanya bergantung pada seberapa cepat seseorang memahami sesuatu, tetapi juga pada bagaimana organisasi membantu karyawan membangun kompetensinya.
Kita Tidak Harus Berkembang dengan Kecepatan yang Sama
Pada akhirnya, mungkin kita memang tidak memiliki kemampuan awal, pengalaman, atau kesempatan yang persis sama dengan orang lain.
Ada yang lebih cepat memahami suatu pekerjaan. Ada yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk menguasainya. Ada yang memiliki keleluasaan untuk mencoba berbagai jalur karier, sementara yang lain harus mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan.
Namun, perbedaan tersebut tidak cukup untuk menentukan seluruh potensi seseorang.
Daripada terus bertanya, “Kenapa saya tidak bisa seperti dia?”, kita bisa mulai bertanya, “Apa yang perlu saya pelajari, dukungan apa yang saya butuhkan, dan langkah apa yang paling realistis untuk saya ambil sekarang?”
Sebab, perkembangan karier bukan hanya tentang seberapa cepat kita sampai pada tujuan. Ada kemampuan yang perlu dibangun, pengalaman yang perlu dikumpulkan, dan kesempatan yang perlu dibuka.
Kita mungkin tidak memulai dari titik yang sama. Namun, memahami titik awal kita sendiri adalah salah satu langkah untuk menentukan arah perkembangan yang lebih tepat.
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
aditidevelopmentcenter@gmail.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
