Career Comparison: Ketika LinkedIn Membuat Kita Merasa Tertinggal

ketika kita mengakses LinkedIn, niat awal untuk melihat informasi pekerjaan atau sekadar mengecek kabar teman, menjadi bumerang tersendiri.

PENGEMBANGAN KARYAWANKONSULTAN HRPERUSAHAAN

Putu Winadia Audina

9/24/20263 min read

Pernahkan merasa cemas saat ataupun setelah membuka LinkedIn?

Seperti seharusnya, Linkedin merupakan platform digital berbasis profesional terbesar di dunia yang dirancang khusus untuk membangun jejaring karier, mencari pekerjaan, dan berbagi keahlian antar satu orang pada orang lainnya. Melalui LinkedIn, kita dapat menerima banyak informasi dalam konteks pekerjaan, hingga perkembangan karir dari seseorang.

Di sisi lain, ketika kita mengakses LinkedIn, niat awal untuk melihat informasi pekerjaan atau sekadar mengecek kabar teman, menjadi bumerang tersendiri. Mengapa demikian?

Bagi sebagian besar dari kita, sering kali temuan terkait pencapaian orang lain, seperti promosi jabatan, pindah ke perusahaan impian, menyelesaikan pendidikan, atau membagikan pencapaian karirnya, menimbulkan banyak gejolak internal dalam diri, misalnya tanpa sadar muncul pikiran seperti:

“Kok dia sudah sejauh itu, ya?”
“Aku kapan?”
“Apa aku sebenarnya tertinggal?”

Padahal, beberapa menit sebelumnya kita mungkin sedang baik-baik saja dengan perjalanan karier sendiri.

Fenomena seperti ini sangat mudah terjadi ketika media sosial profesional menjadi bagian dari keseharian kita. LinkedIn memang dapat menjadi ruang untuk membangun koneksi, mencari informasi pekerjaan, maupun berbagi pencapaian profesional. Namun, di sisi lain, melihat perkembangan karier orang lain secara terus-menerus juga dapat membuat kita mulai membandingkan perjalanan mereka dengan perjalanan kita sendiri.

Ketika pencapaian orang lain menjadi tolak ukur diri

Dalam dunia psikologi, fenomena membandingkan diri dengan orang lain dikenal dengan istilah social comparison. Dimana, kita secara alami menggunakan orang lain sebagai referensi kita dalam memahami diri sendiri, termasuk dalam menilai kemampuan, pencapaian, maupun posisi kita di lingkungan. Hal ini menjadi tolak ukur dalam menentukan standar hidup kita sebagai seorang manusia, pekerja, maupun peran-peran lainnya dalam kehidupan.

Di sisi lain, dalam konteks pekerjaan, proses ini lebih dikenal dengan istilah career comparison. Misalnya, ketika melihat teman yang mendapatkan promosi, kita mulai mempertanyakan perkembangan karier sendiri. Ketika melihat seseorang yang sepantaran usia dengan kita sudah menjadi manager, kita mulai merasa belum melakukan cukup banyak hal. Atau misalnya ketika melihat orang lain mengikuti berbagai pelatihan dan mendapatkan sertifikasi, kita mulai merasa harus melakukan hal yang sama.

Padahal, perjalanan karier setiap orang tidak berlangsung dengan waktu dan kondisi yang sama.

LinkedIn membuat keseluruhan dinamika perbandingan ini menjadi sangat mudah. Kita dapat dengan mudah melihat berbagai pencapaian profesional orang lain hanya dengan beberapa kali scrolling.

Ketika career comparison mulai terasa melelahkan

Membandingkan diri dengan orang lain memang tidak selalu memberikan dampak negatif. Dalam kondisi tertentu, melihat pencapaian orang lain justru dapat menjadi sumber inspirasi.

Di sisi lain, ketika perbandingan membuat kita terus merasa kurang, merasa terbelakang, atau merasa tidak banyak berkembang, dampaknya bisa berbeda, misalnya:

  1. Merasa tertinggal

Kita merasa perkembangan karier kita tidak cukup cepat dibandingkan orang lain.

  1. Meragukan pencapaian sendiri

Hal yang sebelumnya terasa membanggakan tiba-tiba terasa biasa saja karena melihat pencapaian orang lain.

  1. Munculnya career anxiety

Kita mulai merasa khawatir dengan masa depan karier dan terus bertanya apakah kita sudah berada di jalur yang benar.

  1. Kehilangan kepuasan terhadap perjalanan sendiri

Kita menjadi lebih fokus pada apa yang belum dimiliki daripada menghargai perkembangan yang sudah dicapai.

  1. Merasa harus terus melakukan sesuatu

Mengambil sertifikasi, mencari pekerjaan baru, mengikuti berbagai kegiatan, atau mengejar pencapaian tertentu bukan lagi karena memang dibutuhkan, tetapi karena merasa harus “menyamai” orang lain.

Akhirnya, kita bukan lagi bertanya:

“Apa yang sebenarnya ingin aku capai?”

melainkan:

“Apa yang harus aku lakukan supaya tidak kalah dari orang lain?”

Di titik ini, perkembangan karier dapat berubah menjadi sebuah perlombaan yang tidak pernah selesai.

Lantas, apa yang bisa dilakukan?

Dengan pola yang terjadi saat ini, bukan berarti kita harus berhenti menggunakan LinkedIn atau tidak boleh melihat pencapaian orang lain. Akan tetapi, kita bisa berfokus pada bagaimana kita merespons apa yang kita lihat.

Misalnya, ketika kita melihat seseorang yang baru saja mendapatkan promosi, alih-alih menanggapinya dengan berpikir “Kenapa aku belum seperti dia?” akan lebih baik jika kita bisa menggeser fokus menjadi “Apa yang bisa kupelajari dari perjalanannya?”

Kita perlu mengembalikan fokus pada perjalanan kita sendiri, mulai dari apa yang sudah dipelajari selama satu tahun terakhir, kemampuan apa yang telah berkembang, tantangan apa yang saat ini sudah dapat diatasi, dan lainnya.

Sebab, perkembangan karier tidak selalu terlihat dalam bentuk promosi, jabatan, atau pencapaian yang dapat dibagikan di LinkedIn. Ada kalanya bentuknya berupa kita yang bertumbuh berarti menjadi lebih percaya diri dalam menjalankan pekerjaan, menemukan bidang yang ternyata tidak sesuai dengan diri kita, atau sekadar mulai memahami seperti apa kehidupan kerja yang sebenarnya kita inginkan.

Karena setiap perjalanan karier punya waktunya sendiri

LinkedIn dapat menunjukkan kepada kita ribuan perjalanan karier dalam satu layar. Tetapi bukan berarti kita harus menjalani semuanya dengan kecepatan yang sama. Ada orang yang menemukan arah kariernya lebih cepat. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk mencari tahu apa yang diinginkan. Ada yang berkembang melalui promosi, sementara yang lain bertumbuh melalui pengalaman, pembelajaran, atau perubahan arah.

Jadi, ketika suatu hari scrolling LinkedIn membuat kita merasa tertinggal, mungkin kita bisa berhenti sejenak dan bertanya:

“Apakah aku benar-benar tertinggal, atau aku hanya sedang terlalu sering melihat perjalanan orang lain?”

Karena karier bukan hanya tentang seberapa cepat kita mencapai sesuatu. Tetapi juga tentang apakah perjalanan yang sedang kita jalani memang sesuai dengan diri dan tujuan kita.

Kalau akhir-akhir ini perjalanan karier orang lain justru membuatmu semakin meragukan dirimu sendiri, mungkin ini saatnya berhenti sejenak dan mendengarkan apa yang sebenarnya kamu butuhkan.

Tidak semua rasa tertinggal berarti kita benar-benar tertinggal. Terkadang, kita hanya perlu ruang untuk memahami kembali diri, tujuan, dan arah yang ingin kita tuju.

Our Social Media :

Email address :

Need help?

0857-7562-0778

© 2025. All rights reserved.

Mobile number :

aditidevelopmentcenter@gmail.com

Consultation (WA) :

0857-7562-0778

address :

Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.

Group :