Di Balik Aroma HMNS: Bagaimana Psikologi Organisasi Membaca Budaya Kerja Brand Parfum Indonesia
Ketika berbicara tentang HMNS, yang biasanya muncul lebih dulu adalah parfum, aroma, desain produk, atau strategi branding yang dekat dengan generasi muda.
PEMIMPINGEN ZPERUSAHAAN
Andhika Buana
9/16/20264 min read


Namun, ada sisi lain yang menarik untuk dilihat: bagaimana manusia di balik brand tersebut bekerja, berkolaborasi, dan membangun makna dari pekerjaannya?
Dari perspektif Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), perjalanan HMNS memberikan beberapa hal menarik untuk dibaca. Bukan hanya tentang bagaimana sebuah produk dipasarkan, tetapi bagaimana leadership, desain pekerjaan, nilai organisasi, dan makna kerja dapat membentuk pengalaman seseorang di tempat kerja.
Storytelling sebagai Cara Pemimpin Membangun Makna
Rizky Arief Dwi Prakoso, CEO sekaligus Founder HMNS, memiliki latar belakang yang cukup berbeda dari jalur bisnis pada umumnya. Setelah lulus dari Teknik Geologi ITB pada 2016, ia sempat bekerja sebagai copywriter. Dari pengalaman tersebut, ia menemukan bahwa cerita dapat memberikan pengaruh besar terhadap bagaimana seseorang memahami sebuah produk.
Dalam sesi YES! We Talk 2024 di UGM, Rizky menjelaskan bahwa ia melihat manusia sebagai user interface. Artinya, untuk membuat sebuah produk menjadi bermakna, perusahaan perlu memahami cerita dan konteks manusia yang ada di sekitarnya. Cara pandang tersebut juga menjadi salah satu inspirasi di balik nama HMNS, yang merupakan kependekan dari humans.
Menariknya, pendekatan storytelling seperti ini tidak hanya relevan untuk konsumen.
Dalam konteks organisasi, pemimpin juga perlu menjelaskan "mengapa kita melakukan ini?", bukan hanya "apa yang harus dilakukan?"
Di sinilah storytelling dapat dibaca melalui perspektif transformational leadership. Salah satu karakteristik kepemimpinan transformasional adalah kemampuan pemimpin membangun visi dan memberikan makna terhadap pekerjaan, sehingga anggota organisasi tidak hanya memahami tugasnya, tetapi juga memahami kontribusinya terhadap tujuan yang lebih besar.
Namun, penting untuk membedakan antara teori dan fakta. Belum ada cukup data publik untuk menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan HMNS secara keseluruhan dapat dikategorikan sebagai transformational leadership. Yang dapat kita lihat adalah adanya penggunaan storytelling oleh Rizky sebagai bagian dari cara ia memahami bisnis dan manusia.
Dan dari sudut pandang PIO, itu merupakan hal yang menarik: cerita dapat menjadi alat untuk menghubungkan pekerjaan sehari-hari dengan makna yang lebih besar.
Ketika Pekerjaan Tidak Hanya Berhenti di Gaji
Ada aspek lain dari perjalanan Rizky yang menarik untuk dilihat melalui perspektif PIO: hubungan antara bisnis dan orang-orang yang berada di dalam ekosistemnya.
Ketika seseorang melihat bahwa hasil pekerjaannya memiliki dampak terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan dapat memperoleh makna yang lebih besar. Konsep ini dikenal sebagai meaningfulness of work atau kebermaknaan kerja.
Dalam literatur PIO, kebermaknaan kerja berkaitan dengan sejauh mana seseorang memandang pekerjaannya sebagai sesuatu yang bernilai, signifikan, dan memiliki tujuan.
Artinya, seorang pekerja mungkin tidak hanya berpikir:
"Saya bekerja untuk menyelesaikan tugas."
Tetapi juga:
"Pekerjaan saya punya dampak terhadap orang lain."
Pada titik ini, pekerjaan dapat menjadi lebih dari sekadar aktivitas ekonomi. Ia menjadi bagian dari identitas dan kontribusi seseorang.
Dalam konteks HMNS, cerita mengenai hubungan bisnis dengan perajin dan vendor lokal dapat dibaca sebagai contoh bagaimana aktivitas bisnis dapat memiliki konsekuensi sosial yang lebih luas. Tetapi, lagi-lagi, hal tersebut sebaiknya dipahami sebagai potensi sumber kebermaknaan kerja, bukan bukti bahwa seluruh karyawan HMNS otomatis memiliki employee engagement yang tinggi.
Karena engagement tetap membutuhkan data yang lebih konkret: survei karyawan, wawancara, tingkat retensi, employee experience, atau indikator organisasi lainnya.
Scent Philosopher: Ketika Desain Pekerjaan Menjadi Bagian dari Identitas
Salah satu hal yang cukup unik dari HMNS adalah penggunaan jabatan "Scent Philosopher".
Posisi ini bukan sekadar nama yang terdengar kreatif. Dalam beberapa lowongan HMNS yang dipublikasikan di LinkedIn, posisi Scent Philosopher muncul untuk beberapa lokasi dan berkaitan dengan aktivitas di sisi customer experience dan penjualan.
Dari perspektif PIO, fenomena ini menarik karena berhubungan dengan konsep job design.
Desain pekerjaan bukan hanya tentang menentukan daftar tugas. Cara organisasi mendefinisikan sebuah pekerjaan juga dapat memengaruhi bagaimana seseorang memahami peran dan identitas profesionalnya.
Bayangkan perbedaan psikologis antara:
"Sales Promotion Girl"
dengan
"Scent Philosopher."
Keduanya dapat memiliki aktivitas operasional yang beririsan, tetapi nama dan narasi pekerjaan dapat memberikan konteks identitas yang berbeda.
Namun, kita juga perlu berhati-hati: nama jabatan yang unik tidak otomatis berarti psychological ownership atau otonomi karyawan menjadi tinggi. Untuk menyimpulkan hal tersebut, kita tetap membutuhkan bukti mengenai seberapa besar kebebasan karyawan dalam mengambil keputusan, mengatur pekerjaannya, dan memiliki kendali terhadap hasil pekerjaannya.
Jadi, yang menarik dari HMNS bukan sekadar nama "Scent Philosopher"-nya, tetapi pertanyaan yang lebih besar:
Seberapa jauh organisasi memberikan ruang bagi seseorang untuk melihat pekerjaannya sebagai bagian dari identitas dirinya?
"Made for Humans": Lebih dari Sekadar Tagline?
HMNS menggunakan tagline "Made for Humans" dan secara terbuka menggambarkan dirinya sebagai brand yang ingin memahami selera manusia serta terus belajar dari konsumennya. Profil perusahaan HMNS di LinkedIn juga menyebut bahwa brand tersebut didirikan pada 2019 dan berkembang dengan pendekatan yang menempatkan manusia sebagai bagian penting dari perjalanan brand.
Di Jobstreet, HMNS juga menggambarkan lingkungan kerjanya sebagai fast-paced dan purpose-driven.
Dari perspektif PIO, nilai seperti ini menarik karena budaya organisasi tidak hanya terbentuk dari aturan formal. Ia juga dibangun melalui bahasa, simbol, kebiasaan, dan cara organisasi mendefinisikan "siapa kita".
Tetapi ada perbedaan penting antara nilai yang dikomunikasikan perusahaan dan pengalaman nyata karyawan.
Sebuah tagline dapat mengatakan "Made for Humans". Namun, untuk mengetahui apakah sebuah organisasi benar-benar human-centered, kita perlu melihat bagaimana perusahaan memperlakukan manusia dalam praktiknya:
Apakah karyawan memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat?
Apakah kesalahan diperlakukan sebagai kesempatan belajar?
Apakah pemimpin terbuka terhadap kritik?
Apakah target bisnis tetap mempertimbangkan kapasitas manusia?
Apakah karyawan memiliki otonomi dalam menjalankan pekerjaannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih dekat dengan konsep psychological safety, autonomy, employee experience, dan organizational culture.
Jadi, Made for Humans dapat menjadi titik awal untuk membaca filosofi organisasi HMNS, tetapi bukan bukti tunggal mengenai kondisi psikologis karyawannya.
Apa yang Bisa Dipelajari dari HMNS?
Dari sudut pandang PIO, kisah HMNS menunjukkan bahwa membangun perusahaan tidak hanya berkaitan dengan produk dan strategi pemasaran.
Ada lapisan manusia di belakangnya.
Pertama, pemimpin perlu membangun cerita.
Visi yang hanya ditulis dalam dokumen perusahaan belum tentu memiliki makna bagi karyawan. Pemimpin perlu menerjemahkannya menjadi cerita yang dapat dipahami dan dirasakan.
Kedua, pekerjaan perlu memiliki konteks.
Ketika seseorang memahami dampak dari pekerjaannya, pekerjaan dapat menjadi lebih bermakna daripada sekadar daftar tugas.
Ketiga, desain pekerjaan memengaruhi pengalaman manusia.
Nama jabatan, ruang mengambil keputusan, dan cara organisasi memberikan tanggung jawab dapat membentuk bagaimana seseorang melihat dirinya di dalam organisasi.
Keempat, budaya perlu dibuktikan melalui perilaku.
Tagline dan nilai perusahaan memang penting, tetapi budaya organisasi pada akhirnya terlihat dari apa yang terjadi ketika seseorang melakukan kesalahan, menyampaikan pendapat, menghadapi tekanan, atau berbeda pandangan dengan atasannya.
HMNS menunjukkan bagaimana brand yang berbicara tentang manusia dapat menjadi menarik untuk dibaca dari perspektif yang juga berfokus pada manusia: Psikologi Industri dan Organisasi.
Karena pada akhirnya, perusahaan bukan hanya tentang apa yang dijual kepada pelanggan.
Perusahaan juga tentang bagaimana manusia di dalamnya bekerja, menemukan makna, dan berkembang bersama organisasi.
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
aditidevelopmentcenter@gmail.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
