Gen Z Bilang Anti Orang Dalam. Tapi Kenapa Banyak yang Cari Networking?
Ketika idealisme bertemu realitas dunia kerja.
GEN ZPERUSAHAANKARYAWAN
Andhika Buana
9/8/20262 min read


Ketika seorang pencari kerja diterima di perusahaan impiannya, komentar yang sering muncul di media sosial bukan lagi "selamat", melainkan: "Pasti ada orang dalam."
Istilah ordal atau orang dalam seolah menjadi simbol ketidakadilan di dunia kerja Indonesia. Banyak Gen Z menganggap praktik tersebut sebagai musuh utama meritokrasi. Mereka percaya bahwa pekerjaan seharusnya diberikan berdasarkan kompetensi, bukan kedekatan.
Namun menariknya, ketika ditelusuri lebih jauh, generasi yang paling vokal mengkritik budaya orang dalam justru menjadi generasi yang paling banyak mendapatkan pekerjaan melalui koneksi.
Lalu sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Apakah Gen Z benar-benar anti orang dalam?
Atau mereka sedang menghadapi realitas dunia kerja yang berbeda dari idealisme yang mereka yakini?
Ketika Meritokrasi Bertemu Realitas Pasar Kerja
Secara nilai, Gen Z dikenal sebagai generasi yang sangat peduli terhadap transparansi dan keadilan. Mereka tumbuh di era ketika informasi terbuka, proses rekrutmen bisa dibandingkan melalui media sosial, dan isu nepotisme cepat menjadi sorotan publik, karena itu tidak mengherankan jika banyak anak muda menginginkan sistem kerja yang lebih meritokratis.
Namun di sisi lain, kondisi pasar kerja saat ini juga semakin kompetitif. Menurut data BPS, tingkat pengangguran kelompok usia muda masih menjadi salah satu yang tertinggi dibanding kelompok usia lainnya. Di saat yang sama, satu posisi pekerjaan dapat menerima ratusan hingga ribuan pelamar dalam waktu singkat.
Dalam kondisi seperti ini, kompetensi saja sering kali tidak cukup. Masalahnya bukan tidak mampu, masalahnya adalah tidak terlihat.
Data Menunjukkan Hal yang Menarik
Survei Applied yang dikutip Business Insider menemukan bahwa sekitar 68% pekerja Gen Z memperoleh pekerjaan atau peluang kerja pertama mereka melalui koneksi atau relasi profesional. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan generasi yang lebih tua.
Data tersebut menunjukkan satu hal penting:
Banyak Gen Z yang menolak nepotisme, tetapi tetap memanfaatkan jaringan profesional untuk mendapatkan akses ke peluang kerja. Sekilas terlihat kontradiktif, namun sebenarnya ada perbedaan besar antara nepotisme dan networking.
Nepotisme memberikan keuntungan karena hubungan pribadi, networking memberikan akses karena hubungan profesional. Dalam networking, seseorang tetap harus membuktikan kemampuannya setelah kesempatan itu diberikan.
Mengapa Networking Menjadi Sangat Penting?
Dari sudut pandang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), manusia selalu mencari cara untuk mengurangi ketidakpastian. Ketika proses rekrutmen dianggap terlalu rumit, terlalu kompetitif, atau kurang transparan, individu akan mencari jalur lain yang dapat meningkatkan peluang keberhasilan mereka.
Salah satunya adalah membangun relasi. Inilah alasan mengapa banyak Gen Z aktif di LinkedIn, mengikuti komunitas profesional, menghadiri seminar karier, hingga mencari mentor.
Bukan karena mereka ingin jalan pintas. tetapi karena mereka memahami bahwa akses sering kali sama pentingnya dengan kompetensi.
Gen Z Tidak Anti Orang Dalam. Mereka Anti Ketidakadilan.
Di sinilah letak inti persoalannya. Sebagian besar Gen Z tidak mempermasalahkan keberadaan koneksi, yang mereka tolak adalah ketika koneksi menjadi satu-satunya alasan seseorang mendapatkan kesempatan. Mereka masih menerima sistem referral, mereka masih membangun networking, mereka masih memanfaatkan komunitas profesional tetapi mereka ingin proses seleksi tetap adil.
Karena bagi mereka, membuka pintu boleh dibantu oleh relasi. Namun siapa yang layak bertahan di dalam ruangan harus ditentukan oleh kemampuan.
Pelajaran bagi Perusahaan
Fenomena ini memberikan pelajaran penting bagi organisasi. Perusahaan modern tidak bisa hanya mengandalkan sistem referral tanpa menjaga transparansi proses seleksi.
Generasi muda saat ini ingin mengetahui bahwa setiap kandidat tetap memiliki kesempatan yang sama untuk dinilai berdasarkan kompetensi. Referral mungkin membantu mempercepat proses rekrutmen tetapi kepercayaan karyawan akan muncul ketika keputusan akhir tetap berbasis merit.
Karena pada akhirnya, yang dicari Gen Z bukan dunia kerja tanpa koneksi. Mereka hanya ingin memastikan bahwa kompetensi tidak kalah oleh kedekatan.
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
aditidevelopmentcenter@gmail.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
