Gen Z Nggak Butuh Dipaksa Loyal, Kalau Sudah Punya Sense of Belonging

Mereka dinilai mudah resign, cepat pindah kerja, dan tidak segan meninggalkan perusahaan meskipun baru satu atau dua tahun bergabung.

KARYAWANGEN ZPERUSAHAAN

Andhika Buana

9/6/20262 min read

Beberapa tahun terakhir, satu keluhan yang sering terdengar dari para manajer dan HR adalah:
"Gen Z sekarang susah loyal."

Mereka dinilai mudah resign, cepat pindah kerja, dan tidak segan meninggalkan perusahaan meskipun baru satu atau dua tahun bergabung. Namun pertanyaannya, apakah benar masalahnya ada pada loyalitas?

Atau jangan-jangan perusahaan terlalu fokus menuntut loyalitas, tetapi lupa membangun alasan mengapa seseorang ingin bertahan?

Dari sudut pandang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), loyalitas sebenarnya bukan sesuatu yang bisa dipaksa. Loyalitas lebih sering muncul sebagai hasil dari pengalaman kerja yang positif, salah satunya ketika karyawan memiliki sense of belonging atau rasa memiliki terhadap organisasi.

Loyalitas Tidak Bisa Dibeli

Banyak perusahaan beranggapan bahwa kenaikan gaji, bonus, atau fasilitas yang lebih baik akan otomatis membuat karyawan bertahan lebih lama. Faktanya tidak selalu demikian.

Kita sering menemukan fenomena yang menarik:

  • Gaji kompetitif.

  • Lingkungan kerja nyaman.

  • Hubungan dengan rekan kerja baik.

  • Performa karyawan juga bagus.


Tetapi tiba-tiba karyawan tersebut mengajukan resign. Ketika ditanya alasannya, jawabannya sering kali sederhana: "Saya merasa sudah tidak berkembang lagi."

atau
"Saya tidak merasa terhubung dengan perusahaan ini."

Artinya, keputusan bertahan tidak selalu ditentukan oleh kompensasi. Ada kebutuhan psikologis lain yang sering luput diperhatikan.

Apa Itu Sense of Belonging?

Sense of belonging adalah perasaan bahwa seseorang diterima, dihargai, dan menjadi bagian penting dari kelompok atau organisasi tempat ia berada.

Karyawan yang memiliki sense of belonging biasanya merasa:

  • Pendapatnya didengar.

  • Kontribusinya dianggap penting.

  • Identitas dirinya diterima.

  • Pekerjaannya memiliki makna yang jelas.


Mereka tidak hanya bekerja untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Di sinilah perbedaan terbesar antara loyalitas dan sense of belonging. Loyalitas sering terlihat dari perilaku bertahan, sedangkan sense of belonging berasal dari perasaan memiliki dan tanpa rasa memiliki, loyalitas biasanya hanya bertahan sementara.

Kenapa Ini Penting bagi Gen Z?

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang sering melihat karier sebagai perjalanan jangka panjang dalam satu perusahaan, banyak Gen Z melihat karier sebagai proses pembelajaran yang terus bergerak.

Mereka bertanya:
"Apa yang bisa saya pelajari di sini?"
"Apakah saya berkembang?"
"Apakah saya dihargai?"

Jika jawabannya tidak mereka temukan, mereka cenderung mencari tempat lain, bukan karena tidak loyal tetapi karena mereka tidak menemukan alasan yang cukup kuat untuk bertahan.

Survei Deloitte terhadap Gen Z secara global berulang kali menunjukkan bahwa generasi ini sangat memperhatikan faktor seperti makna pekerjaan (purpose), kesempatan berkembang (growth opportunities), kesejahteraan mental (well-being), dan lingkungan kerja yang inklusif.

Dengan kata lain, mereka tidak hanya mencari pekerjaan, mereka mencari tempat di mana mereka merasa menjadi bagian dari sesuatu.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Perusahaan

Banyak organisasi masih menganggap loyalitas sebagai kewajiban karyawan, padahal dalam praktiknya, loyalitas adalah konsekuensi dari pengalaman kerja yang baik. Ketika perusahaan hanya fokus pada target, KPI, dan hasil kerja tanpa membangun hubungan yang sehat dengan karyawan, yang muncul sering kali hanyalah kepatuhan.

Karyawan tetap bekerja, target tetap tercapai namun secara emosional mereka sudah tidak terhubung dengan organisasi. Inilah yang sering menjadi awal munculnya resign mendadak yang membuat perusahaan terkejut.

Membangun Sense of Belonging Tidak Sesulit yang Dibayangkan

Membangun rasa memiliki tidak selalu membutuhkan program besar atau anggaran yang mahal.

Sering kali dimulai dari hal-hal sederhana:

  • Atasan yang mau mendengarkan.

  • Apresiasi terhadap kontribusi karyawan.

  • Kesempatan berkembang yang jelas.

  • Komunikasi yang terbuka.

  • Lingkungan yang aman untuk menyampaikan pendapat.


Ketika karyawan merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar sumber daya, keterikatan terhadap organisasi akan tumbuh secara alami.

Loyalitas Adalah Dampak, Bukan Tujuan

Mungkin sudah saatnya perusahaan berhenti bertanya:
"Kenapa Gen Z tidak loyal?"

Dan mulai bertanya:
"Apakah organisasi kami sudah membuat mereka merasa memiliki?"

Karena pada akhirnya, Gen Z tidak butuh dipaksa loyal. Mereka hanya butuh alasan untuk bertahan dan alasan itu sering kali bukan datang dari gaji yang lebih besar, melainkan dari rasa bahwa mereka dihargai, didengar, dan menjadi bagian penting dari organisasi tempat mereka bekerja.

Ketika sense of belonging terbentuk, loyalitas tidak perlu diminta. Ia akan tumbuh dengan sendirinya.

Our Social Media :

Email address :

Need help?

0857-7562-0778

© 2025. All rights reserved.

Mobile number :

aditidevelopmentcenter@gmail.com

Consultation (WA) :

0857-7562-0778

address :

Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.

Group :