Kenapa Gen Z Lebih Betah dengan Bos yang Mau Mendengarkan? Belajar dari Putri Tanjung
Di banyak perusahaan, ada satu pertanyaan yang terus muncul
PEMIMPINGEN ZPERUSAHAAN
Andhika Buana
9/14/20262 min read


Kenapa karyawan Gen Z cepat bosan, mudah resign, atau terlihat tidak terlalu loyal terhadap perusahaan?
Sebagian pemimpin menganggap penyebabnya adalah karakter generasi yang berbeda. Ada yang menyebut Gen Z terlalu idealis. Ada juga yang menilai mereka kurang tahan tekanan dibanding generasi sebelumnya. Namun jika ditelusuri lebih jauh, masalahnya mungkin bukan terletak pada generasinya.
Melainkan pada cara organisasi memimpin mereka. Menariknya, ketika banyak perusahaan masih berusaha memahami karakter Gen Z, Putri Tanjung justru membangun perusahaan yang sejak awal dirancang untuk hidup bersama generasi muda.
Sebagai Founder dan CEO CXO Media, Putri tidak hanya menjadikan anak muda sebagai target audiens. Ia juga menjadikan mereka bagian penting dari ekosistem organisasinya. Dari sudut pandang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), pendekatan ini menarik karena menunjukkan perubahan besar dalam cara memandang kepemimpinan.
Gen Z Tidak Hanya Mencari Pekerjaan
Banyak orang mengira bahwa generasi muda bekerja untuk mencari gaji yang lebih tinggi, padahal berbagai survei menunjukkan bahwa Gen Z juga mencari hal lain:
kesempatan berkembang,
pekerjaan yang bermakna,
lingkungan yang sehat,
serta pemimpin yang mau mendengarkan.
Laporan Jobstreet Workplace Happiness Index menunjukkan bahwa work-life balance, makna pekerjaan, dan hubungan kerja yang sehat menjadi faktor penting yang memengaruhi kebahagiaan kerja generasi muda. Artinya, hubungan dengan atasan tidak lagi dianggap sebagai bonus. Melainkan kebutuhan.
Ketika Pemimpin Menjadi Emotional Connector
Dalam berbagai wawancara publik, Putri Tanjung sering berbicara tentang pentingnya memahami keresahan anak muda. Mulai dari kecemasan karier, tekanan sosial, hingga tuntutan untuk terus berkembang di era digital.
Cara pandang ini tidak hanya terlihat dalam konten yang diproduksi CXO Media, tetapi juga dalam bagaimana organisasi dibangun. Alih-alih mempertahankan jarak hierarkis yang kaku, pendekatan yang muncul lebih menyerupai hubungan kolaboratif.
Pemimpin tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga berperan sebagai penghubung antara tujuan perusahaan dan kebutuhan emosional tim.
Dalam teori PIO, pendekatan ini dikenal sebagai Human Relations Approach, yaitu keyakinan bahwa manusia bekerja lebih baik ketika mereka merasa dihargai, didengar, dan dilibatkan dalam proses organisasi.
Mengapa Pendekatan Ini Penting?
Banyak perusahaan saat ini menghadapi masalah yang serupa:
turnover tinggi,
burnout,
disengagement,
quiet quitting.
Sering kali solusi yang dicari adalah menambah benefit atau menaikkan kompensasi, padahal akar masalahnya bisa jadi lebih sederhana. Karyawan merasa tidak memiliki hubungan dengan organisasinya, mereka datang bekerja, menyelesaikan tugas, lalu pulang, tanpa pernah merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Di sinilah peran pemimpin menjadi penting, karena sense of belonging tidak lahir dari slogan perusahaan. Ia lahir dari interaksi sehari-hari, dari cara pemimpin mendengar,dari cara pemimpin merespons ide, dan dari cara pemimpin memperlakukan timnya sebagai manusia.
Dari Loyalitas Menuju Sense of Belonging
Selama bertahun-tahun, banyak organisasi berbicara tentang loyalitas. Namun bagi Gen Z, loyalitas sering kali bukan sesuatu yang bisa diminta.
Loyalitas adalah hasil, yang dicari terlebih dahulu adalah rasa memiliki. Mereka ingin merasa bahwa pekerjaan mereka berarti.
Bahwa suara mereka didengar, bahwa mereka memiliki ruang untuk berkembang. Ketika kebutuhan tersebut terpenuhi, keterikatan terhadap organisasi akan muncul secara alami, bukan karena takut kehilangan pekerjaan, tetapi karena merasa menjadi bagian dari tempat yang membantu mereka bertumbuh.
Pelajaran untuk Perusahaan
Kasus Putri Tanjung menunjukkan bahwa memimpin generasi muda tidak selalu membutuhkan strategi yang rumit, sering kali yang dibutuhkan justru kemampuan yang paling sederhana:
mendengarkan.
Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, pemimpin tidak lagi cukup hanya menjadi pengambil keputusan, mereka juga perlu menjadi emotional connector. Seseorang yang mampu menghubungkan target bisnis dengan kebutuhan manusia yang bekerja di baliknya.
Karena pada akhirnya, banyak karyawan tidak meninggalkan pekerjaan semata-mata karena gaji, mereka meninggalkan tempat yang tidak lagi memberikan ruang untuk didengar, berkembang, dan merasa memiliki.
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
aditidevelopmentcenter@gmail.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
