Kenapa Kita Suka Menunda Pekerjaan? Ternyata Bukan Sekadar Malas
Pernah merasa sudah tahu ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan, tetapi bukannya mulai mengerjakan, kita justru membuka ponsel, menonton video, atau malah tidur?
KARYAWANGEN ZPENGEMBANGAN KARYAWAN
Andhika Buana
10/10/20264 min read


Pernah merasa sudah tahu ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan, tetapi bukannya mulai mengerjakan, kita justru membuka ponsel, menonton video, atau malah tidur?
Awalnya, kita mungkin berpikir masih punya banyak waktu. Namun, ketika tenggat waktu semakin dekat, rasa panik mulai muncul. Pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan baik akhirnya dikerjakan terburu-buru, bahkan hasilnya tidak sesuai harapan.
Pola perilaku ini dikenal sebagai procrastination atau prokrastinasi, yaitu kecenderungan menunda pekerjaan yang sebenarnya ingin atau perlu diselesaikan, meskipun kita mengetahui bahwa penundaan tersebut dapat menimbulkan konsekuensi negatif.
Namun, apakah kebiasaan menunda selalu berarti seseorang malas atau tidak memiliki disiplin?
Dalam psikologi, jawabannya tidak sesederhana itu.
Kita Tidak Selalu Menghindari Pekerjaannya, tetapi Perasaan yang Menyertainya
Prokrastinasi sering kali berkaitan dengan cara seseorang mengelola emosi. Menurut penjelasan psikolog Fuschia Sirois dalam podcast American Psychological Association (APA), seseorang bisa menunda pekerjaan bukan semata-mata karena tugasnya sulit, tetapi karena pekerjaan tersebut memunculkan perasaan yang tidak nyaman.
Misalnya, seorang karyawan mendapat tugas membuat laporan yang akan dinilai langsung oleh atasannya. Ia khawatir hasilnya tidak cukup baik, bingung harus memulai dari mana, atau takut melakukan kesalahan.
Alih-alih membuka dokumen dan mulai bekerja, ia memilih mengecek ponsel terlebih dahulu. Aktivitas tersebut terasa lebih menyenangkan dan membuatnya sejenak melupakan kekhawatiran tentang pekerjaan.
Masalahnya, perasaan lega itu hanya berlangsung sementara. Tugasnya tetap ada, tenggat waktu semakin dekat, dan tekanan yang dirasakan justru bertambah.
Dalam konteks Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), hal ini menarik karena perilaku menunda tidak bisa selalu dijelaskan hanya melalui kedisiplinan atau kemampuan mengatur waktu. Kita juga perlu memahami bagaimana individu merespons tuntutan pekerjaan, ketidakpastian, dan tekanan untuk menghasilkan kinerja yang baik.
Bagaimana Prokrastinasi Menjadi Kebiasaan?
Penundaan dapat membentuk siklus yang sulit dihentikan.
Ketika sebuah tugas menimbulkan kecemasan, frustrasi, atau kebosanan, seseorang mungkin memilih menghindarinya. Penghindaran tersebut memberikan kelegaan sesaat sehingga perilaku yang sama terasa seperti solusi setiap kali tugas berikutnya muncul.
Siklusnya dapat terlihat seperti ini:
Tugas terasa tidak nyaman → pekerjaan dihindari → muncul kelegaan sementara → tugas semakin tertunda → tekanan meningkat.
Ketika tenggat waktu semakin dekat, seseorang mungkin akhirnya mengerjakan tugas tersebut dalam keadaan terburu-buru. Setelah tugas selesai, ia merasa lega karena berhasil melewati tenggat waktu. Namun, jika tidak mengevaluasi pola tersebut, ia berisiko mengulang cara kerja yang sama pada tugas berikutnya.
Penelitian yang diterbitkan dalam British Journal of Health Psychology pada 2026 turut menunjukkan bahwa prokrastinasi kronis berkaitan dengan penilaian kesehatan diri yang lebih buruk, dan tingkat stres menjelaskan sebagian hubungan tersebut. Temuan ini berasal dari meta-analisis terhadap 36 sampel dengan total 8.603 responden. Meski demikian, hasil tersebut menunjukkan hubungan statistik, bukan berarti setiap orang yang menunda pekerjaan pasti mengalami masalah kesehatan.
Dalam lingkungan kerja, pola penundaan yang terus berulang juga berpotensi membuat penyelesaian tugas semakin mendekati tenggat waktu, mengurangi kesempatan untuk memeriksa kualitas pekerjaan, dan menambah tekanan ketika beberapa tanggung jawab harus diselesaikan sekaligus.
Bisakah Menunda Justru Membuat Kita Tetap Produktif?
Filsuf John Perry memperkenalkan gagasan structured procrastination, yaitu pendekatan yang memanfaatkan kecenderungan menunda untuk menyelesaikan pekerjaan lain yang tetap bermanfaat.
Gagasan ini berangkat dari kenyataan bahwa seseorang yang menghindari satu tugas belum tentu berhenti melakukan semua aktivitas. Ia mungkin tetap bersedia mengerjakan tugas lain yang terasa lebih mudah atau lebih menarik.
Sebagai contoh, seseorang memiliki daftar pekerjaan berikut:
Menyelesaikan revisi laporan yang terasa berat.
Membalas email pekerjaan.
Merapikan dokumen.
Menyusun daftar tugas untuk esok hari.
Ketika belum sanggup memulai revisi laporan, ia dapat mengerjakan tugas lain yang memang perlu diselesaikan, seperti membalas email atau merapikan dokumen. Dengan begitu, waktu yang tersedia tetap digunakan untuk aktivitas yang bermanfaat.
Namun, ada hal penting yang perlu dipahami: structured procrastination bukan berarti sengaja menunda semua pekerjaan atau menganggap setiap aktivitas sama pentingnya. Strategi ini hanya membantu mengarahkan kecenderungan menunda ke pekerjaan lain yang bernilai. Tugas utama tetap perlu mendapatkan perhatian, terutama jika memiliki tenggat waktu yang ketat atau konsekuensi besar.
Jadi, Bagaimana Cara Mengatasi Kebiasaan Menunda?
Jika prokrastinasi berkaitan dengan emosi yang muncul ketika menghadapi pekerjaan, solusinya tidak cukup hanya dengan membuat daftar tugas atau memaksa diri untuk lebih disiplin. Kita perlu memahami apa yang sebenarnya membuat pekerjaan tersebut sulit dimulai.
Coba lakukan beberapa langkah berikut.
1. Kenali alasan di balik penundaan.
Apakah tugasnya terasa terlalu besar? Apakah kamu takut hasilnya salah? Atau justru instruksi pekerjaan belum jelas? Alasan yang berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.
2. Ubah tugas besar menjadi langkah kecil.
Daripada menargetkan menyelesaikan seluruh laporan sekaligus, mulailah dengan membuka dokumen, menyusun kerangka, atau mengumpulkan data yang diperlukan. Langkah awal yang lebih konkret dapat membuat pekerjaan terasa lebih mudah untuk dimulai.
3. Bedakan istirahat dengan penghindaran.
Istirahat memang dibutuhkan untuk menjaga energi. Namun, jika setiap kali menghadapi tugas yang tidak nyaman kita langsung mencari distraksi, ada baiknya mengevaluasi apakah kita benar-benar membutuhkan istirahat atau sedang menghindari perasaan tertentu.
4. Evaluasi kondisi pekerjaan.
Dari perspektif PIO, kebiasaan menunda juga perlu dilihat dalam konteks lingkungan kerja. Beban kerja yang berlebihan, prioritas yang tidak jelas, instruksi yang membingungkan, atau kekhawatiran terhadap respons atasan dapat menjadi faktor yang perlu diperiksa. Karena itu, solusi tidak selalu harus dibebankan kepada individu; pengelolaan pekerjaan dan dukungan dari organisasi juga penting.
Bukan Sekadar Soal Disiplin, tetapi Memahami Diri dan Lingkungan Kerja
Menunda pekerjaan memang bisa berdampak pada produktivitas. Namun, melabeli seseorang sebagai pemalas tidak serta-merta menyelesaikan masalahnya.
Ketika kebiasaan ini terus berulang, kita perlu melihat lebih jauh: apakah ada emosi yang sulit dikelola, tugas yang belum jelas, keterampilan yang perlu dikembangkan, atau kondisi kerja yang membuat pekerjaan terasa semakin berat?
Dengan memahami penyebabnya, kita bisa memilih strategi yang lebih sesuai daripada sekadar mengandalkan motivasi sesaat.
Sebab, langkah pertama untuk berhenti menunda bukan selalu bekerja lebih keras, melainkan memahami apa yang membuat kita sulit memulai.
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
aditidevelopmentcenter@gmail.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
