Kenapa Kita Sulit Menerima Kritik di Kantor? Ternyata Bukan Karena Tidak Profesional.
Pernah tidak? Ketika mendapat masukan dari atasan atau rekan kerja, respons pertama yang muncul justru: "Tapi saya kan sudah berusaha." "Mereka tidak tahu kondisi sebenarnya." "Kenapa yang disalahkan saya?" Kalau pernah, Anda tidak sendirian.
PERUSAHAANKONSULTAN HRPEMIMPIN
Andhika Buana
8/11/20262 min read


Menariknya, psikologi organisasi menunjukkan bahwa otak manusia memang cenderung defensif ketika menerima kritik.
Bukan karena kita tidak profesional.
Tetapi karena kritik sering kali dianggap sebagai ancaman terhadap identitas diri.
Kritik Sering Dianggap Sebagai Ancaman
Ketika seseorang menerima umpan balik negatif, otaknya tidak selalu memproses informasi tersebut sebagai peluang belajar.
Sering kali yang muncul justru perasaan:
malu,
takut dianggap tidak kompeten,
takut dinilai buruk,
atau takut kehilangan reputasi.
Inilah yang dalam psikologi organisasi disebut sebagai defensiveness. Penelitian menunjukkan bahwa sikap defensif sering muncul ketika seseorang merasa dirinya sedang dievaluasi atau dipertanyakan kemampuannya.
Akibatnya, alih-alih mendengarkan isi kritik, energi mental kita justru habis untuk membela diri.
Ironisnya, Orang Berkinerja Tinggi Justru Aktif Mencari Kritik
Banyak orang berpikir bahwa karyawan terbaik adalah mereka yang jarang mendapatkan kritik.
Faktanya tidak selalu begitu.
Berbagai penelitian mengenai feedback di tempat kerja menunjukkan bahwa individu yang aktif mencari masukan cenderung belajar lebih cepat dan berkembang lebih baik dibanding mereka yang hanya menunggu penilaian formal.
Karena itu perbedaannya bukan pada jumlah kritik yang diterima.
Tetapi pada cara seseorang memandang kritik tersebut.
4 Cara Agar Tidak Anti Kritik di Kantor
1. Pisahkan Kritik terhadap Pekerjaan dan Kritik terhadap Diri
Ketika atasan mengatakan:
"Presentasi ini perlu diperbaiki."
Bukan berarti:
"Kamu tidak kompeten."
Yang dikritik adalah hasil kerja, bukan nilai diri Anda sebagai manusia.
Semakin mampu memisahkan keduanya, semakin mudah menerima masukan.
2. Jangan Langsung Merespons
Salah satu kesalahan terbesar saat menerima kritik adalah langsung membalas.
Ketika emosi sedang tinggi, respons kita biasanya lebih defensif daripada rasional.
Tidak masalah untuk berkata:
"Terima kasih masukannya. Saya akan coba pelajari dulu."
Beri ruang bagi diri sendiri untuk berpikir sebelum bereaksi.
3. Cari Pola, Bukan Pembelaan
Jika kritik serupa muncul dari beberapa orang berbeda, kemungkinan ada sesuatu yang memang perlu diperbaiki.
Fokus pada pola yang berulang.
Bukan mencari alasan mengapa kritik tersebut salah.
4. Anggap Kritik Sebagai Data
Cara berpikir ini banyak digunakan dalam coaching dan pengembangan kepemimpinan.
Masukan bukan selalu kebenaran mutlak.
Tetapi masukan adalah data.
Data bisa dianalisis.
Data bisa diverifikasi.
Data bisa digunakan untuk berkembang.
Ketika kritik dianggap sebagai data, ego tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Masalah yang Lebih Besar: Budaya Organisasi
Menariknya, kemampuan menerima kritik tidak hanya ditentukan oleh individu.
Lingkungan kerja juga berpengaruh besar.
Penelitian tentang psychological safety menunjukkan bahwa orang lebih terbuka menerima dan memberikan umpan balik ketika mereka merasa aman untuk berbicara tanpa takut dipermalukan atau dihukum.
Artinya:
Jika setiap kritik selalu disampaikan dengan menyalahkan, mempermalukan, atau menghakimi, maka siapa pun akan cenderung defensif.
Tidak ada orang yang benar-benar suka dikritik.
Itu manusiawi.
Namun orang yang terus berkembang biasanya memiliki satu kemampuan yang membedakan mereka dari yang lain:
Mereka tidak menganggap kritik sebagai serangan.
Mereka menganggap kritik sebagai informasi.
Karena pada akhirnya, karier tidak selalu terhambat oleh kurangnya kemampuan.
Kadang justru terhambat karena kita terlalu sibuk membela diri, sehingga lupa mendengarkan apa yang sebenarnya perlu diperbaiki.
Pertanyaan untuk kalian
Menurut Anda, mana yang lebih sulit?
Memberikan kritik kepada orang lain, atau menerima kritik terhadap diri sendiri?
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
helloadc@aditidevelopmentcenter.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
