Kenapa Kita Terus Membuka HP meski Tidak Ada yang Dicari?
Pernah tidak, kamu membuka HP hanya untuk melihat satu notifikasi, tetapi akhirnya malah menghabiskan waktu puluhan menit untuk scrolling?
KARYAWANGEN ZPENGEMBANGAN KARYAWAN
Andhika Buana
10/19/20264 min read


Awalnya hanya ingin mencari hiburan sebentar. Lalu berpindah dari satu video ke video berikutnya, membaca komentar, membuka aplikasi lain, dan tanpa sadar terus melakukannya meskipun sebenarnya tidak ada yang sedang dicari.
Fenomena ini terasa familiar bagi banyak orang. Namun, jika dilihat dari perspektif Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), kebiasaan tersebut menarik untuk dibahas karena berkaitan dengan bagaimana perilaku terbentuk, apa yang memicunya, dan bagaimana kebiasaan itu dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, termasuk pekerjaan.
Ketika Membuka HP Menjadi Kebiasaan Otomatis
Tidak semua aktivitas scrolling dilakukan karena kita benar-benar membutuhkan informasi. Terkadang, kita membuka HP karena bosan, sedang menunggu, merasa lelah, atau sekadar ingin mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang sedang dilakukan.
Ketika tindakan yang sama terus diulang dalam situasi serupa, perilaku tersebut dapat berkembang menjadi kebiasaan.
Dalam psikologi perilaku, konsep habit formation menjelaskan bagaimana suatu tindakan yang awalnya dilakukan secara sadar dapat menjadi semakin otomatis ketika berulang kali dilakukan dalam konteks tertentu.
Penelitian tentang kebiasaan menggunakan smartphone menemukan bahwa pemeriksaan ponsel secara singkat dan berulang dapat menjadi kebiasaan yang relatif otomatis. Artinya, seseorang tidak selalu perlu memiliki tujuan khusus untuk memeriksa perangkatnya.
Misalnya, setiap kali merasa bosan saat mengerjakan laporan, seseorang terbiasa membuka media sosial. Setelah pola ini berulang, rasa bosan itu sendiri dapat menjadi pemicu untuk mengambil HP, bahkan sebelum ia mempertimbangkan apakah tindakan tersebut memang diperlukan.
Akibatnya, scrolling bukan lagi sekadar pilihan untuk mencari hiburan, tetapi bisa menjadi respons otomatis terhadap situasi tertentu.
Mengapa Kita Sulit Berhenti meskipun Sudah Berniat?
Salah satu alasan kebiasaan scrolling sulit dikendalikan adalah karena ada pemicu yang terus muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Pemicu tersebut bisa berupa notifikasi, ikon aplikasi yang terlihat di layar, waktu senggang, rasa bosan, atau kebiasaan memeriksa HP sesaat setelah bangun tidur.
Ketika pemicu yang sama berulang kali diikuti tindakan membuka aplikasi, hubungan antara situasi dan perilaku tersebut dapat semakin kuat.
Bayangkan seseorang sedang bekerja dan menemui tugas yang terasa sulit. Ia kemudian membuka media sosial untuk beristirahat sebentar. Aktivitas tersebut memberikan pengalihan dari tugas yang tidak nyaman.
Ketika situasi serupa terjadi kembali, membuka media sosial dapat menjadi pilihan yang semakin mudah dilakukan. Bukan berarti orang tersebut tidak memiliki disiplin, tetapi perilakunya mungkin sudah terbentuk melalui pengulangan dalam konteks yang sama.
Penelitian mengenai penggunaan smartphone di tempat kerja juga menemukan bahwa rasa bosan dan kelelahan berkaitan dengan kecenderungan seseorang berinteraksi dengan ponsel. Hubungan ini tidak membuktikan bahwa setiap orang akan melakukan hal yang sama, tetapi menunjukkan pentingnya memahami kondisi yang mendahului perilaku tersebut.
Karena itu, mencoba berhenti hanya dengan mengandalkan niat terkadang tidak cukup. Kita juga perlu mengenali situasi yang membuat kebiasaan tersebut muncul.
Dampaknya terhadap Produktivitas Kerja
Dalam konteks pekerjaan, kebiasaan memeriksa HP secara berulang dapat menjadi sumber interupsi.
Seseorang yang sedang menyusun laporan, misalnya, harus mengalihkan perhatian dari tugasnya ketika membuka media sosial. Setelah selesai scrolling, ia perlu kembali memahami bagian pekerjaan yang sebelumnya sedang dikerjakan.
Jika hal ini berulang kali terjadi, waktu yang tersedia untuk menyelesaikan tugas dapat terpotong. Pada sebagian orang, kebiasaan tersebut juga dapat membuat pekerjaan tertunda atau mengganggu aktivitas yang membutuhkan konsentrasi.
Sebuah penelitian terhadap 262 partisipan menemukan hubungan antara kecenderungan penggunaan smartphone yang bermasalah, gangguan akibat penggunaan ponsel selama bekerja, dan penurunan produktivitas yang dilaporkan oleh partisipan. Namun, temuan tersebut tidak berarti bahwa setiap penggunaan smartphone akan menurunkan produktivitas. <Cite refs={["turn715517search9"]}/>
Smartphone tetap dapat menjadi alat kerja yang bermanfaat untuk berkomunikasi, mencari informasi, dan mendukung pembelajaran. Persoalannya muncul ketika penggunaannya tidak lagi sesuai dengan tujuan atau mulai mengganggu penyelesaian tugas.
Dengan kata lain, yang perlu diperhatikan bukan sekadar berapa lama seseorang menggunakan HP, tetapi juga kapan, untuk tujuan apa, dan apakah ia masih mampu menghentikan aktivitas tersebut ketika perlu melakukan hal lain.
Mengubah Kebiasaan, Bukan Sekadar Melarang Diri Sendiri
Jika kebiasaan scrolling terbentuk melalui pengulangan, salah satu cara untuk mengelolanya adalah mengubah pola yang membuat perilaku tersebut terus terjadi.
Ada beberapa langkah yang dapat dicoba.
Pertama, kenali pemicunya.
Perhatikan kapan kamu paling sering membuka HP tanpa tujuan. Apakah ketika bosan, sedang menghadapi pekerjaan sulit, menunggu sesuatu, atau setiap kali notifikasi muncul?
Mengenali pemicu membantu kita memahami alasan di balik perilaku tersebut, bukan sekadar menyalahkan diri sendiri karena terlalu sering scrolling.
Kedua, ubah lingkungan yang memicu kebiasaan.
Jika notifikasi sering membuat perhatian teralihkan, matikan notifikasi yang tidak penting. Jika ikon media sosial membuat kamu refleks membukanya, pindahkan aplikasi tersebut dari layar utama.
Langkah ini bertujuan menciptakan jeda antara munculnya dorongan dan tindakan yang biasanya dilakukan secara otomatis.
Ketiga, siapkan perilaku pengganti.
Ketika merasa bosan atau membutuhkan jeda, kamu tidak harus selalu membuka media sosial. Kamu bisa berdiri sebentar, berjalan singkat, membaca artikel, atau melakukan aktivitas ringan yang sesuai dengan kebutuhan saat itu.
Perilaku pengganti akan lebih mudah diterapkan jika sudah direncanakan sebelumnya, bukan baru dipikirkan ketika dorongan untuk scrolling muncul.
Keempat, tentukan tujuan sebelum membuka HP.
Sebelum membuka aplikasi, tanyakan kepada diri sendiri: apakah saya sedang mencari informasi tertentu, ingin berkomunikasi, atau hanya membuka aplikasi karena terbiasa?
Tidak semua penggunaan HP harus memiliki tujuan produktif. Mencari hiburan juga wajar. Namun, membedakan penggunaan yang disengaja dari tindakan otomatis dapat membantu kita mengambil kembali kendali atas waktu yang digunakan.
Bukan Berarti Kita Harus Berhenti Scrolling
Media sosial bukan selalu masalah. Kita bisa menggunakannya untuk mencari inspirasi, mempelajari keterampilan baru, mengikuti perkembangan informasi, atau menikmati hiburan setelah bekerja.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika kebiasaan tersebut sulit dihentikan meskipun sudah mengganggu pekerjaan, waktu istirahat, atau aktivitas lain yang penting.
Dalam perspektif PIO, pengelolaan perilaku digital juga tidak harus dibebankan sepenuhnya kepada individu. Di lingkungan kerja, organisasi dapat membantu dengan menetapkan ekspektasi komunikasi yang jelas, mengurangi notifikasi yang tidak mendesak, serta menyediakan waktu kerja yang memungkinkan karyawan berkonsentrasi tanpa interupsi yang tidak perlu.
Sebab, perilaku seseorang tidak terbentuk dalam ruang kosong. Kebiasaan juga dipengaruhi oleh lingkungan dan situasi tempat perilaku itu dilakukan.
Pada akhirnya, kita tidak selalu membuka HP karena ada sesuatu yang perlu dicari. Terkadang, kita melakukannya karena sudah terbiasa.
Maka, langkah pertama untuk mengubah kebiasaan bukan sekadar memaksa diri berhenti scrolling, melainkan memahami apa yang memicunya dan mulai membangun respons yang berbeda.
Karena yang ingin kita kendalikan bukan hanya waktu di depan layar, tetapi juga kemampuan untuk memilih kapan kita perlu membuka HP dan kapan kita perlu kembali fokus pada hal yang sedang dikerjakan.
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
aditidevelopmentcenter@gmail.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
