Kenapa Orang yang Baik ke Atasan Sering Dicap Penjilat?
Di hampir setiap kantor, selalu ada satu karakter yang mudah dikenali: dia datang lebih pagi, aktif berdiskusi dengan atasan, cepat merespons pesan pimpinan, sering dilibatkan dalam proyek penting.
KARYAWANPEMIMPINPERUSAHAAN
Andhika Buana
8/25/20263 min read


Di hampir setiap kantor, selalu ada satu karakter yang mudah dikenali: dia datang lebih pagi, aktif berdiskusi dengan atasan, cepat merespons pesan pimpinan, sering dilibatkan dalam proyek penting, dan hampir selalu, cepat atau lambat, akan muncul bisik-bisik yang sama.
"Dia mah dekat sama bos."
"Pantes aja naik terus."
"Penjilat itu."
Menariknya, tuduhan itu sering muncul bahkan sebelum orang benar-benar memahami bagaimana orang tersebut bekerja. Seolah-olah ada aturan tak tertulis di dunia kerja:
Terlalu dekat dengan atasan adalah tanda bahaya.
Terlalu sering terlihat bersama pimpinan dianggap mencurigakan, terlalu aktif berkomunikasi dianggap sedang mencari muka.
Padahal pertanyaannya sederhana:
Apakah semua orang yang dekat dengan atasan memang penjilat?
Atau jangan-jangan kita sering salah membaca situasi?
Di Kantor, Persepsi Sering Kalah Cepat dari Fakta
Bayangkan ada dua karyawan, yang pertama sangat kompeten ia rutin memberi update pekerjaan, mampu menerjemahkan arahan pimpinan menjadi tindakan, aktif berdiskusi saat rapat, dan membangun hubungan kerja yang baik dengan atasannya.
Yang kedua bekerja dengan baik, tetapi lebih pasif, tidak banyak berbicara, jarang terlihat berinteraksi dengan pimpinan. Enam bulan kemudian, karyawan pertama mendapat promosi.
Apa yang biasanya terjadi? Banyak orang tidak melihat laporan kinerjanya, tidak melihat kontribusinya, tidak melihat jam-jam tambahan yang ia habiskan untuk menyelesaikan pekerjaan.
Yang terlihat hanya satu hal:
"Dia dekat sama bos." dan dari situlah cerita tentang "penjilat" dimulai.
Sebenarnya Ada Nama Ilmiahnya
Dalam Psikologi Industri dan Organisasi, fenomena ini dikenal sebagai ingratiation.
Secara sederhana, ingratiation adalah upaya seseorang untuk membangun kesan positif di mata orang lain yang memiliki pengaruh atau kekuasaan. Bentuknya bisa berupa pujian, membantu, menunjukkan kesamaan pendapat, atau membangun hubungan yang lebih dekat.
Masalahnya, masyarakat sering menyamakan semua bentuk hubungan positif dengan atasan sebagai penjilatan. Padahal tidak selalu demikian, karena hubungan kerja yang sehat juga membutuhkan komunikasi yang sehat. Sulit membayangkan seorang karyawan dapat berkembang tanpa pernah membangun hubungan profesional dengan pimpinannya.
Mengapa Kita Cepat Menuduh Orang Lain Penjilat?
Jawabannya bukan selalu karena perilaku orang tersebut tetapi karena cara kita menafsirkan perilakunya.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa reaksi orang terhadap perilaku yang dianggap "menjilat" sangat bergantung pada motif yang mereka percayai berada di balik tindakan tersebut. Jika dianggap tulus, perilaku itu dipandang positif. Jika dianggap manipulatif, respons yang muncul justru negatif.
Artinya, dua orang bisa melihat perilaku yang sama tetapi menghasilkan kesimpulan yang berbeda.
Seseorang melihat:
"Dia profesional."
Orang lain melihat:
"Dia cari muka."
Yang berbeda bukan perilakunya, yang berbeda adalah interpretasinya.
Budaya Kantor Juga Punya Peran
Di Indonesia, fenomena ini bahkan memiliki istilah yang sangat populer:
ABS — Asal Bapak Senang.
Sebuah penelitian pada karyawan BUMN di Indonesia menemukan bahwa perilaku ingratiation sering muncul sebagai respons terhadap persepsi politik organisasi. Ketika karyawan merasa promosi dan kesempatan karier tidak sepenuhnya transparan, sebagian orang memilih membangun kedekatan dengan pihak yang memiliki pengaruh lebih besar.
Di sinilah masalah mulai muncul, ketika sistem dianggap tidak adil, orang mulai kehilangan kepercayaan pada proses. Akibatnya, keberhasilan seseorang lebih mudah dijelaskan dengan kalimat:
"Karena dekat sama atasan."
daripada:
"Karena memang performanya bagus."
Ironisnya, Penjilat yang Terlalu Terlihat Justru Sering Gagal
Banyak orang mengira menjilat selalu berhasil. Faktanya tidak sesederhana itu.
Penelitian menunjukkan bahwa ketika atasan menyadari adanya upaya menjilat yang terlalu jelas dan manipulatif, reputasi pelakunya justru bisa menurun. Penilaian kinerja dan peluang promosi dapat terdampak negatif karena perilaku tersebut dianggap tidak autentik.
Artinya, penjilatan yang nyata tidak selalu menghasilkan keuntungan. Bahkan bisa menjadi bumerang, karena pimpinan yang berpengalaman biasanya mampu membedakan antara:
loyalitas,
profesionalisme,
dan manipulasi.
Jadi, Mana yang Profesional dan Mana yang Penjilat?
Perbedaannya sering kali terletak pada tujuan.
Profesional
Berani berbeda pendapat dengan atasan.
Memberikan masukan ketika diperlukan.
Membangun hubungan untuk memperlancar pekerjaan.
Tetap konsisten meskipun atasan tidak ada.
Penjilat
Selalu setuju dengan semua keputusan.
Memuji secara berlebihan.
Berubah sikap ketika ada atasan.
Mengutamakan citra dibanding kontribusi.
Yang satu membangun kepercayaan, yang satu membangun kesan, dan keduanya tidak selalu terlihat sama dari luar.
Pelajaran untuk Organisasi
Ketika sebuah kantor terlalu sering menggunakan kata "penjilat", mungkin masalahnya bukan hanya pada individu. Bisa jadi ada persoalan yang lebih besar.
Misalnya:
sistem promosi yang tidak transparan,
kriteria penilaian yang tidak jelas,
komunikasi pimpinan yang buruk,
atau budaya organisasi yang terlalu politis.
Karena di organisasi yang sehat, karyawan tidak perlu memilih antara bekerja dengan baik atau dekat dengan atasan. Mereka bisa melakukan keduanya sekaligus.
Mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan:
"Apakah dia penjilat?"
Tetapi:
"Mengapa kita begitu cepat menganggap kedekatan dengan atasan sebagai sesuatu yang negatif?"
Karena dalam dunia kerja, hubungan profesional yang baik adalah kebutuhan. Yang perlu diwaspadai bukan kedekatannya, melainkan ketika kedekatan itu menggantikan kompetensi. Sebab organisasi yang matang tidak memberi penghargaan pada siapa yang paling pandai menyenangkan atasan, tetapi pada siapa yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi tim dan organisasi.
Pertanyaan untuk Audiens
Menurut Anda, apakah label "penjilat" lebih sering muncul karena perilaku seseorang, atau karena rekan kerja tidak mengetahui kontribusi sebenarnya yang ia berikan di balik layar?
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
helloadc@aditidevelopmentcenter.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
