Ketika Jabatan Hilang, Mengapa Sebagian Orang Kehilangan Dirinya?
Banyak orang mengira Post Power Syndrome hanya dialami pensiunan.
EMPLOYEE DEVELOPMENTPEMIMPINKARYAWAN
Andhika Buana
9/1/20262 min read


Bayangkan seseorang yang selama 20 tahun selalu dipanggil: Direktur, General Manager, Kepala Divisi atau Branch Manager.
Setiap keputusan yang ia buat didengar, setiap rapat menunggu persetujuannya, setiap hari teleponnya berdering, pesannya dibalas cepat, pendapatnya dianggap penting, lalu suatu hari semuanya berubah, masa jabatan selesai, pensiun tiba atau organisasi melakukan restrukturisasi.
Secara formal tidak ada yang salah, namun secara psikologis, sebagian orang mengalami sesuatu yang jauh lebih berat daripada kehilangan jabatan. Mereka kehilangan identitas.
Ketika Nilai Diri Terlalu Melekat pada Jabatan
Banyak orang mengira Post Power Syndrome hanya dialami pensiunan. Padahal fenomena ini bisa terjadi pada siapa saja yang terlalu lama mendefinisikan dirinya melalui posisi yang dimilikinya.
Dalam Psikologi Industri dan Organisasi, kondisi ini sering dikaitkan dengan identity loss, yaitu ketika seseorang kehilangan peran yang selama ini menjadi sumber utama harga dirinya.
Akibatnya muncul pertanyaan yang tidak mudah dijawab:
Jika saya bukan lagi manajer, lalu saya siapa?
Jika saya bukan lagi direktur, apa yang membuat saya berharga?
Mengapa Hal Ini Terjadi?
Masalahnya bukan pada jabatan, masalahnya adalah ketika jabatan berubah menjadi identitas. Selama bertahun-tahun seseorang menerima pengakuan karena posisinya, mendapat penghormatan karena kewenangannya, merasa dibutuhkan karena perannya. Ketika semua itu hilang, otak sering kali menerjemahkannya sebagai kehilangan makna hidup.
Penelitian pada pegawai yang memasuki masa pensiun menunjukkan bahwa hilangnya status sosial, berkurangnya interaksi kerja, dan menurunnya rasa dibutuhkan menjadi faktor utama munculnya Post Power Syndrome.
Yang Menarik: Fenomena Ini Tidak Hanya Terjadi Saat Pensiun
Di dunia kerja modern, Post Power Syndrome bisa muncul jauh sebelum usia pensiun.
Misalnya ketika:
gagal mendapatkan promosi,
dipindahkan dari posisi strategis,
kehilangan tim yang dipimpin,
mengalami demosi,
atau terdampak restrukturisasi organisasi.
Secara administratif hanya terjadi perubahan posisi, namun secara psikologis, seseorang bisa merasa kehilangan sebagian dirinya.
Tanda-Tanda yang Sering Tidak Disadari
Beberapa orang mulai:
sering menceritakan kejayaan masa lalu,
sulit menerima perubahan,
merasa tidak lagi dihargai,
mudah tersinggung,
kehilangan motivasi bekerja.
Yang menarik, masalah utamanya sering kali bukan perubahan itu sendiri, melainkan ketidakmampuan menerima bahwa peran boleh berubah, tetapi nilai diri tidak ikut berkurang.
Pelajaran untuk Karyawan dan Pemimpin
Dunia kerja saat ini berubah sangat cepat, jabatan bisa berganti, struktur organisasi bisa berubah, posisi strategis bisa berpindah ke orang lain. Karena itu, salah satu bentuk resiliensi terpenting saat ini adalah membangun identitas yang lebih besar daripada jabatan.
Karena pada akhirnya jabatan adalah sesuatu yang kita pegang, bukan sesuatu yang kita miliki selamanya.
Penutup
Post Power Syndrome bukan sekadar cerita tentang pensiun, ini adalah pengingat bahwa semakin seseorang menggantungkan harga dirinya pada posisi yang dimiliki, semakin besar risiko kehilangan arah ketika posisi itu berubah.
Karena yang membuat seseorang berharga bukanlah kartu namanya, melainkan kompetensi, pengalaman, karakter, dan kontribusi yang tetap melekat bahkan ketika jabatan sudah tidak lagi ada.
Pertanyaan untuk kamu
Jika suatu hari jabatan Anda berubah atau bahkan hilang, apa yang masih membuat Anda percaya diri terhadap nilai yang Anda miliki?
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
helloadc@aditidevelopmentcenter.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
