Ketika Kelelahan Menjadi Risiko Bisnis: Apa yang Bisa Dipelajari dari Strategi AMMAN Mencapai Zero Fatality?
Bagi banyak perusahaan, keselamatan kerja sering kali dipandang sebagai urusan kepatuhan.
PERUSAHAANKARYAWANEMPLOYEE DEVELOPMENT
Andhika Buana
9/2/20262 min read


Selama prosedur dijalankan, selama alat pelindung digunakan, selama audit berjalan maka keselamatan dianggap sudah dikelola dengan baik. Namun di industri pertambangan, realitasnya jauh lebih kompleks, karena kecelakaan tidak selalu terjadi akibat kurangnya prosedur.
Sering kali kecelakaan terjadi karena faktor yang lebih manusiawi:
kelelahan.
Kurangnya konsentrasi.
Penurunan kewaspadaan.
Atau keputusan yang dibuat dalam kondisi fisik dan mental yang tidak optimal.
Inilah tantangan yang juga dihadapi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), salah satu perusahaan tambang tembaga dan emas terbesar di Indonesia. Di tengah lingkungan kerja berisiko tinggi, AMMAN berhasil menutup tahun 2025 dengan pencapaian Zero Fatality.
Yang menarik, salah satu fokus utama perusahaan bukan hanya pada teknologi atau kepatuhan prosedur, tetapi pada pengelolaan perilaku dan kondisi manusia di tempat kerja.
Ketika Produktivitas Tinggi Berhadapan dengan Risiko Kelelahan
Tambang Batu Hijau yang dioperasikan AMMAN termasuk salah satu tambang tembaga paling produktif di dunia. Tingkat produksi yang tinggi tentu membutuhkan aktivitas operasional yang berjalan hampir tanpa henti. Dalam kondisi seperti ini, fatigue atau kelelahan kerja menjadi ancaman yang tidak bisa dianggap remeh.
National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) mencatat bahwa sekitar 65% kecelakaan haul truck di tambang terbuka berkaitan dengan fatigue. Artinya, pekerja yang kompeten sekalipun dapat melakukan kesalahan ketika kondisi fisik dan mentalnya menurun.
Bagi perusahaan, ini mengubah cara pandang terhadap keselamatan.
Pertanyaannya bukan lagi:
Apakah pekerja sudah mengetahui prosedur?
Tetapi:
Apakah kondisi kerja memungkinkan pekerja tetap menjalankan prosedur dengan aman?
Solusi AMMAN: Mengelola Manusia, Bukan Hanya Risiko
Alih-alih hanya menambah aturan keselamatan, AMMAN membangun pendekatan yang lebih menyeluruh. Salah satunya adalah menjadikan fatigue management sebagai tanggung jawab bersama.
Karyawan didorong untuk mengenali tanda-tanda kelelahan pada rekan kerjanya, jika seseorang menunjukkan indikasi fatigue, ia didorong untuk beristirahat tanpa konsekuensi negatif.
Menariknya, rekan kerja yang aktif membantu mengidentifikasi risiko tersebut juga mendapatkan apresiasi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keselamatan tidak hanya menjadi tugas departemen HSE, tetapi menjadi bagian dari perilaku kolektif organisasi.
8 Vital Behaviors: Ketika Budaya Lebih Penting daripada Poster Keselamatan
AMMAN juga menerapkan delapan perilaku keselamatan utama atau 8 Vital Behaviors.
Prinsip-prinsip ini mengatur berbagai aspek penting seperti:
kepatuhan terhadap izin kerja,
larangan memodifikasi perangkat keselamatan,
prosedur isolasi energi,
penggunaan sabuk pengaman,
larangan penggunaan ponsel saat berkendara.
Sekilas aturan tersebut terlihat sederhana, namun dalam praktiknya, konsistensi menjalankan perilaku kecil inilah yang sering membedakan organisasi dengan budaya keselamatan kuat dan organisasi yang hanya memiliki dokumen keselamatan.
Apa Kata Psikologi Industri dan Organisasi?
Jika dilihat dari perspektif PIO, keberhasilan AMMAN tidak hanya berasal dari sistem keselamatan, tetapi dari kemampuannya membangun tiga aspek psikologis penting.
Psychological Safety
Karyawan merasa aman untuk mengakui ketika mereka lelah atau membutuhkan bantuan.Behavior-Based Safety
Perusahaan fokus membentuk perilaku aman sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan hanya sebagai aturan tertulis.Shared Accountability
Keselamatan dipandang sebagai tanggung jawab semua orang, bukan hanya tanggung jawab satu departemen.
Ketiga faktor ini merupakan fondasi penting dalam membangun budaya keselamatan yang berkelanjutan.
Pelajaran untuk Perusahaan
Banyak organisasi berinvestasi pada teknologi keselamatan yang canggih, namun kasus AMMAN menunjukkan bahwa teknologi saja tidak cukup, karena risiko terbesar dalam organisasi sering kali bukan berasal dari mesin.
Melainkan dari manusia yang kelelahan, kehilangan fokus, atau merasa tidak aman untuk menyampaikan kondisi yang mereka alami. Maka membangun budaya keselamatan tidak hanya berbicara tentang alat.
Tetapi juga tentang:
✔ perilaku,
✔ komunikasi,
✔ kepemimpinan,
✔ dan keberanian organisasi untuk menempatkan kesejahteraan pekerja sebagai bagian dari strategi bisnis.
Penutup
Pencapaian Zero Fatality AMMAN pada akhirnya memberikan satu pelajaran penting, keselamatan kerja bukan sekadar target operasional. Keselamatan adalah hasil dari budaya yang dibangun secara konsisten setiap hari, karena ketika organisasi mampu mengelola manusia sebaik mereka mengelola teknologi, keselamatan tidak lagi menjadi program. Melainkan menjadi cara perusahaan bekerja.
Pertanyaan untuk kamu
Menurut Anda, ketika berbicara tentang keselamatan kerja, mana yang lebih sulit dibangun dalam organisasi: teknologi keselamatan atau budaya keselamatan?
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
helloadc@aditidevelopmentcenter.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
