Ketika Konflik Bukan Soal Siapa yang Benar
Ketika PT Bank Syariah Indonesia (BSI) resmi terbentuk melalui merger BRIsyariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah, tantangan terbesar mereka bukan hanya soal integrasi sistem atau operasional.
Andhika Buana
8/15/20262 min read


Tantangan terbesarnya adalah manusia.
Bayangkan.
Tiga organisasi dengan budaya kerja berbeda.
Tiga kebiasaan kerja berbeda.
Tiga cara mengambil keputusan yang berbeda.
Kemudian harus bekerja sebagai satu tim dalam organisasi yang sama.
Secara teori, mereka memiliki tujuan yang sama.
Namun dalam praktiknya, muncul pertanyaan yang sering terjadi dalam banyak organisasi:
"Kenapa kita harus mengikuti cara kerja mereka?"
"Di perusahaan saya dulu tidak seperti itu."
"Cara tim kami sebenarnya lebih efektif."
Inilah yang dalam Psikologi Industri dan Organisasi dikenal sebagai Post-Merger Cultural Conflict.
Konflik yang muncul bukan karena individu saling membenci.
Tetapi karena masing-masing kelompok merasa cara kerjanya yang paling benar.
Konflik Tidak Selalu Berbentuk Pertengkaran
Banyak orang menganggap konflik selalu terlihat jelas.
Padahal konflik paling berbahaya justru sering kali diam-diam.
Misalnya:
Informasi tidak dibagikan antar tim.
Kolaborasi menjadi minim.
Muncul kelompok-kelompok kecil.
Kepercayaan antar rekan kerja menurun.
Karyawan hanya nyaman bekerja dengan kelompoknya sendiri.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat produktivitas, memperlambat pengambilan keputusan, dan menurunkan efektivitas organisasi.
Bagaimana BSI Mengatasinya?
BSI menyadari bahwa konflik tidak akan selesai hanya dengan meminta karyawan "rukun".
Karena itu mereka melakukan pendekatan yang lebih sistematis.
1. Menyatukan Identitas Melalui Nilai Bersama
BSI mengadopsi nilai inti AKHLAK sebagai budaya bersama.
Tujuannya sederhana:
Mengurangi identitas "bank lama" dan membangun identitas baru sebagai bagian dari BSI.
Karena selama orang masih merasa:
"Saya orang Bank A."
atau
"Saya orang Bank B."
maka kolaborasi akan lebih sulit terbentuk.
2. Membekali Pemimpin dengan Kemampuan Mengelola Konflik
Tidak semua konflik harus menunggu menjadi besar.
Karena itu para manajer dibekali kemampuan untuk mengenali tanda-tanda awal konflik.
Misalnya:
tim mulai terkotak-kotak,
komunikasi mulai berkurang,
muncul kelompok eksklusif,
kolaborasi lintas tim menurun.
Semakin cepat konflik dikenali, semakin mudah diselesaikan.
3. Membangun Kolaborasi Secara Sengaja
Kepercayaan tidak muncul otomatis.
Kepercayaan perlu dibangun.
Salah satu cara yang dilakukan adalah menciptakan proyek lintas tim dan mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda agar mereka memiliki pengalaman bekerja bersama.
Karena sering kali prasangka berkurang ketika orang mulai saling mengenal.
Pelajaran untuk Perusahaan
Banyak konflik kerja sebenarnya bukan berasal dari perbedaan pendapat.
Melainkan karena perbedaan cara melihat dunia kerja.
Konflik akan semakin sulit diselesaikan jika organisasi hanya fokus pada aturan dan prosedur.
Yang juga perlu dibangun adalah:
✔ Kepercayaan
✔ Komunikasi
✔ Kejelasan peran
✔ Budaya kerja yang sama
✔ Kemampuan pemimpin dalam mengelola perbedaan
Karena tujuan mengelola konflik bukan membuat semua orang selalu setuju.
Tujuannya adalah memastikan perbedaan tidak berubah menjadi hambatan bagi kinerja organisasi.
Konflik di tempat kerja tidak selalu bisa dihindari.
Namun konflik yang dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pembelajaran, inovasi, dan kolaborasi yang lebih kuat.
Melalui program Employee Development, organisasi dapat membantu pemimpin dan karyawan mengembangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, manajemen konflik, serta membangun budaya kerja yang lebih sehat dan produktif.
Menurut Anda, konflik di tempat kerja lebih sering muncul karena perbedaan kepribadian atau karena perbedaan budaya dan cara kerja yang belum dikelola dengan baik?
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
helloadc@aditidevelopmentcenter.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
