Ketika Pelanggan Marah, Mengapa Sales yang Pertama Kali Disalahkan?

Beberapa waktu terakhir, media sosial diramaikan oleh berbagai keluhan pelanggan terhadap layanan purna jual di industri otomotif.

KARYAWANPENGEMBANGAN KARYAWANSALES

Andhika Buana

8/23/20263 min read

Dalam banyak kasus, sorotan publik tidak hanya tertuju pada produk atau perusahaan, tetapi juga kepada sosok sales yang sebelumnya melayani pelanggan. Menariknya, fenomena ini tidak hanya terjadi di industri otomotif. Di perbankan, asuransi, properti, telekomunikasi, hingga teknologi, sales sering menjadi orang pertama yang dihubungi ketika pelanggan mengalami masalah.

Padahal, tidak semua masalah berada dalam kendali mereka. Lalu pertanyaannya: Mengapa sales sering menjadi sasaran pertama ketika pelanggan kecewa?

Sales Bukan Hanya Menjual

Banyak orang melihat pekerjaan sales hanya sebatas menjual produk. Padahal dalam praktiknya, peran mereka jauh lebih kompleks.

Sales adalah:

  • representasi perusahaan,

  • sumber informasi bagi pelanggan,

  • penghubung antara pelanggan dan organisasi,

  • sekaligus penjaga hubungan jangka panjang.

Karena itulah ketika terjadi masalah, pelanggan cenderung kembali kepada orang yang paling mereka kenal, yaitu sales.

Masalahnya, sales sering kali tidak memiliki kewenangan untuk:

  • menentukan kebijakan garansi,

  • mempercepat proses teknis,

  • menyetujui kompensasi,

  • mengubah keputusan manajemen.

Akibatnya mereka berada dalam posisi yang sulit.

Fenomena Role Conflict yang Jarang Dibahas

Dalam Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), kondisi ini dikenal sebagai Role Conflict.

Role Conflict terjadi ketika seseorang menerima tuntutan yang saling bertentangan dari berbagai pihak. Penelitian mengenai frontline employee menunjukkan bahwa konflik peran sering muncul ketika karyawan harus memenuhi harapan pelanggan sekaligus memenuhi aturan organisasi yang tidak selalu sejalan.

Bayangkan situasi berikut.

Pelanggan berkata:
"Saya membeli produk ini dari Anda. Tolong selesaikan masalah saya."

Namun di sisi lain perusahaan berkata:
"Tunggu proses internal."
"Ikuti prosedur."
"Keputusan ada di divisi lain."

Sales akhirnya berada di tengah-tengah. Mereka dituntut memberikan solusi, tetapi tidak memiliki otoritas penuh untuk mengambil keputusan.

Tekanan yang Tidak Terlihat

Bagi pelanggan, percakapan dengan sales mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun bagi sales, situasinya bisa menjadi tekanan psikologis yang berlangsung berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Penelitian menunjukkan bahwa konflik dengan pelanggan berkorelasi dengan meningkatnya stres kerja, menurunnya performa, dan meningkatnya niat untuk keluar dari pekerjaan (turnover intention). Semakin sering seseorang berada dalam konflik dengan pelanggan, semakin besar energi psikologis yang harus dikeluarkan untuk tetap profesional.

Ketika Profesionalisme Menjadi Beban Emosional

Di sinilah muncul konsep lain yang disebut Emotional Labor. Emotional Labor adalah proses mengelola emosi agar tetap menampilkan ekspresi yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan.

Artinya, seorang sales mungkin harus tetap:

  • tenang,

  • sopan,

  • ramah,

  • solutif,

meskipun sedang menghadapi pelanggan yang marah atau frustrasi.

Berbagai penelitian menemukan bahwa perilaku pelanggan yang agresif, tuntutan berlebihan, atau keluhan yang berulang dapat meningkatkan surface acting—yaitu kondisi ketika karyawan harus menampilkan emosi positif yang sebenarnya tidak sedang mereka rasakan. Kondisi ini dapat menguras energi psikologis dan meningkatkan risiko kelelahan emosional.

Mengapa Ini Penting untuk Perusahaan?

Sering kali organisasi fokus pada kepuasan pelanggan.

Namun ada satu fakta yang tidak boleh diabaikan:

Pengalaman pelanggan dan pengalaman karyawan saling memengaruhi.

Penelitian menunjukkan bahwa tekanan emosional yang dialami karyawan garis depan dapat berdampak pada sikap kerja, kualitas pelayanan, dan kepuasan pelanggan itu sendiri, artinya, perusahaan tidak cukup hanya melatih sales untuk "lebih sabar".

Perusahaan juga perlu menyediakan:

  • jalur eskalasi yang jelas,

  • dukungan dari atasan,

  • pelatihan manajemen konflik,

  • kejelasan peran,

  • dukungan psikologis bagi karyawan garis depan.

Karena tanpa dukungan tersebut, sales berpotensi menjadi "penyerap tekanan" dari berbagai arah.

Pelajaran untuk Organisasi

Ketika pelanggan marah, fokus organisasi sering tertuju pada penyelesaian masalah pelanggan.

Padahal ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:

Apakah orang yang berada di garis depan memiliki dukungan yang cukup untuk menghadapi situasi tersebut?

Karena dalam banyak kasus, masalah bukan muncul karena sales tidak kompeten. Masalah muncul karena mereka berada di posisi yang harus memenuhi ekspektasi pelanggan tanpa memiliki kendali penuh atas solusi yang tersedia. Sales bukan hanya menjual produk, mereka mengelola harapan, mereka menjaga hubungan, mereka menjadi wajah perusahaan ketika situasi berjalan baik maupun ketika terjadi masalah.

Semakin kompleks ekspektasi pelanggan, semakin penting bagi organisasi untuk memastikan bahwa karyawan garis depan tidak menghadapi tekanan tersebut sendirian, karena kualitas layanan yang baik tidak hanya lahir dari produk yang unggul tetapi juga dari sistem yang mampu mendukung orang-orang yang berada di garis depan pelayanan.

Pertanyaan untuk Audiens

Menurut Anda, ketika terjadi masalah layanan, apakah perusahaan sering kali terlalu banyak membebankan tanggung jawab kepada sales dan frontliner? Atau justru itu memang bagian dari risiko profesinya?

Our Social Media :

Email address :

Need help?

0857-7562-0778

© 2025. All rights reserved.

Mobile number :

helloadc@aditidevelopmentcenter.com

Consultation (WA) :

0857-7562-0778

address :

Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.

Group :