Ketika Publik Marah, Apa yang Harus Dilakukan Perusahaan?

Di era media sosial, sebuah krisis dapat berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan organisasi untuk meresponsnya.

KRISIS KEPERCAYAANPEMIMPINPERUSAHAAN

Andhika Buana

8/24/20262 min read

Satu keputusan.

Satu kebijakan.

Satu unggahan yang viral.

Kemudian dalam hitungan jam, ribuan komentar bermunculan. Tagar boikot mulai muncul, kepercayaan publik mulai dipertanyakan. Dalam situasi seperti ini, banyak organisasi fokus mencari cara untuk menghentikan kritik.

Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:

Bagaimana perusahaan memulihkan kepercayaan ketika masyarakat sudah mulai meragukannya?

Krisis Terbesar Bukan Selalu Kesalahan

Dalam banyak kasus, yang membuat masyarakat marah bukan hanya keputusan yang diambil perusahaan tetapi bagaimana keputusan tersebut dikomunikasikan, karena ketika pelanggan merasa tidak memahami alasan sebuah kebijakan, muncul ruang kosong yang biasanya akan diisi oleh asumsi, spekulasi, dan ketidakpercayaan.

Dalam psikologi organisasi, kondisi ini dikenal sebagai Trust Crisis atau krisis kepercayaan. Ketika krisis kepercayaan terjadi, publik tidak lagi hanya menilai produk atau layanan. Mereka mulai mempertanyakan niat, integritas, dan keberpihakan organisasi itu sendiri.

Pelajaran dari Krisis yang Pernah Dialami Perusahaan Global

Beberapa perusahaan layanan keuangan global pernah menghadapi gelombang kritik ketika mengambil keputusan yang dianggap membatasi atau membekukan akses terhadap akun, transaksi, maupun aktivitas kelompok tertentu. Keputusan tersebut memicu perdebatan publik mengenai batas antara kepatuhan regulasi, manajemen risiko, dan hak pelanggan. Dalam sejumlah kasus, muncul seruan boikot serta penurunan tingkat kepercayaan dari sebagian pengguna karena mereka merasa organisasi terlalu jauh mengintervensi aktivitas pelanggan.

Menariknya, yang paling sulit dipulihkan setelah krisis bukanlah sistem operasional. Melainkan kepercayaan, karena pelanggan mungkin dapat menerima kesalahan tetapi mereka lebih sulit menerima ketidakjelasan.

Ketika Krisis Terjadi, Karyawan Menjadi Garda Terdepan

Ada satu kelompok yang sering terlupakan ketika organisasi menghadapi tekanan publik, yaitu karyawan garis depan.

Mereka adalah:

  • Customer Service

  • Call Center

  • Relationship Manager

  • Social Media Admin

  • Tim Operasional

  • Tim Kepatuhan dan Risiko


Ketika publik marah, merekalah yang pertama kali menerima dampaknya.

Mereka harus menghadapi:

  • lonjakan komplain,

  • tekanan emosional pelanggan,

  • pertanyaan yang belum memiliki jawaban pasti,

  • tuntutan penyelesaian yang cepat.


Dampak Psikologis yang Jarang Terlihat

Dari perspektif Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), situasi ini dapat memunculkan beberapa risiko psikologis.

Emotional Labor

Karyawan harus tetap tenang, sopan, dan profesional meskipun menghadapi pelanggan yang marah.

Cognitive Overload

Tim internal harus memproses informasi dalam jumlah besar sambil mengambil keputusan yang tepat di bawah tekanan tinggi.

Role Conflict

Karyawan berada di antara dua tuntutan:

  • memenuhi harapan pelanggan,

  • menjalankan kebijakan organisasi.


Ketika kondisi ini berlangsung terus-menerus tanpa dukungan yang memadai, risiko kelelahan emosional (emotional exhaustion) akan meningkat.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Krisis

Ketika reputasi terancam, banyak organisasi secara refleks mencoba:

  • membela diri,

  • menjelaskan secara teknis,

  • membantah kritik.


Padahal masyarakat tidak selalu mencari penjelasan teknis terlebih dahulu.

Mereka ingin mengetahui tiga hal:

1. Apakah perusahaan mendengar?
2. Apakah perusahaan memahami kekhawatiran pelanggan?
3. Apakah perusahaan memiliki niat memperbaiki keadaan?

Jika tiga hal ini tidak terjawab, komunikasi sebanyak apa pun sering kali tidak cukup untuk meredakan kemarahan publik.

Apa yang Dapat Dilakukan Perusahaan?

Perusahaan tidak mungkin menghindari seluruh krisis, namun mereka dapat mempersiapkan cara meresponsnya. Beberapa langkah yang sering ditemukan pada organisasi yang berhasil menjaga kepercayaan publik antara lain:

✔ Komunikasi yang cepat dan konsisten
✔ Transparansi terhadap proses yang sedang berlangsung
✔ Pesan yang sama antara manajemen dan karyawan garis depan
✔ Dukungan psikologis bagi tim yang berhadapan langsung dengan pelanggan
✔ Fokus pada pemulihan kepercayaan, bukan sekadar meredam kritik

Pelajaran untuk Organisasi

Di era digital, publik tidak menuntut perusahaan menjadi sempurna tetapi mereka berharap organisasi bertanggung jawab ketika menghadapi masalah, karena pada akhirnya, aset terbesar perusahaan bukan hanya teknologi, produk, atau modal melainkan kepercayaan, dan seperti banyak krisis yang pernah terjadi di berbagai organisasi global, kepercayaan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun, tetapi dapat dipertaruhkan hanya dalam hitungan hari.

Ketika masyarakat marah, tujuan organisasi bukan memenangkan perdebatan. Tujuannya adalah menjaga hubungan, karena organisasi yang mampu bertahan dalam krisis bukan selalu yang paling besar.

Melainkan yang paling mampu menjaga kepercayaan ketika situasi sedang tidak baik-baik saja.

Pertanyaan untuk kamu

Menurut Anda, ketika terjadi krisis yang memicu kemarahan publik, apa yang paling penting dilakukan perusahaan terlebih dahulu: memberikan penjelasan, meminta maaf, atau mendengarkan kekhawatiran pelanggan?

Our Social Media :

Email address :

Need help?

0857-7562-0778

© 2025. All rights reserved.

Mobile number :

helloadc@aditidevelopmentcenter.com

Consultation (WA) :

0857-7562-0778

address :

Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.

Group :