Masalah Terbesar Menjelang Pensiun Bukan Soal Uang. Tapi Kehilangan Identitas.

Banyak perusahaan fokus merekrut talenta baru. Tapi sedikit yang bertanya: "Apa yang terjadi pada karyawan yang sudah mengabdi 20–30 tahun saat mereka mendekati masa pensiun?" Padahal kehilangan jabatan sering kali lebih mudah daripada kehilangan identitas diri. Menurut Anda, apakah program persiapan pensiun seharusnya menjadi benefit tambahan atau sudah menjadi tanggung jawab perusahaan?

EMPLOYEE DEVELOPMENTKONSULTAN HRPENGEMBANGAN KARYAWAN

Andhika Buana

7/26/20261 min read

Di industri berat seperti petrokimia, banyak karyawan menghabiskan puluhan tahun hidupnya dalam ritme yang sangat terstruktur.

Bangun pagi. Masuk shift. Mengawasi proses produksi. Mengambil keputusan. Memimpin tim. Menyelesaikan masalah operasional.

Lalu suatu hari semuanya berhenti.

Tidak ada briefing. Tidak ada target. Tidak ada tim yang dipimpin. Tidak ada mesin yang harus diawasi.

Dan justru di situlah tantangan sebenarnya muncul.

Banyak perusahaan menganggap pensiun adalah urusan administrasi.

Padahal bagi sebagian karyawan, pensiun adalah perubahan identitas terbesar dalam hidup mereka.

Selama puluhan tahun mereka dikenal sebagai:

"Pak Supervisor."

"Pak Engineer."

"Bu Manager."

Ketika jabatan itu hilang, sebagian orang mulai bertanya:

"Kalau saya bukan lagi itu, lalu saya siapa?"

Inilah yang sering menjadi akar munculnya:

  • kecemasan masa pensiun,

  • penurunan rasa percaya diri,

  • kehilangan tujuan hidup,

  • hingga post power syndrome.

Menariknya, Chandra Asri mencoba melihat persoalan ini dari sudut pandang yang berbeda.

Melalui program Masa Persiapan Pensiun (MPP), perusahaan tidak hanya membahas dana pensiun atau administrasi pasca kerja.

Mereka juga memberikan pembekalan mengenai penyesuaian mental, kewirausahaan, produktivitas pasca kerja, serta literasi keuangan agar karyawan lebih siap memasuki fase kehidupan berikutnya.

Bagi saya, ini mengandung pelajaran penting bagi HR.

Karena tugas HR bukan hanya memastikan seseorang siap bekerja.

Tetapi juga memastikan seseorang siap ketika suatu hari harus berhenti bekerja.

Sebab loyalitas puluhan tahun pantas dibalas dengan lebih dari sekadar surat pensiun.

Pantas dibalas dengan persiapan untuk menjalani kehidupan berikutnya dengan tetap sehat, produktif, dan bermakna.

Pertanyaannya:

Apakah perusahaan Anda sudah memiliki program yang membantu karyawan mempersiapkan masa pensiun secara psikologis, bukan hanya finansial?

Our Social Media :

Email address :

Need help?

0857-7562-0778

© 2025. All rights reserved.

Mobile number :

helloadc@aditidevelopmentcenter.com

Consultation (WA) :

0857-7562-0778

address :

Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.

Group :