Menantea Tutup, Apa yang Terjadi Ketika Kepercayaan Tidak Diimbangi Sistem Pengawasan?
Pengalaman Menantea, bisnis minuman yang didirikan Jerome Polin dan Jehian Sijabat pada 2021, memberikan gambaran tentang risiko tersebut.
KARYAWANPEMIMPINPERUSAHAAN
Andhika Buana
10/14/20265 min read


Bisnis bisa dimulai dari ide yang menarik, berkembang karena popularitas, dan dipercaya banyak orang. Namun, bagaimana jika bisnis yang terlihat sukses dari luar ternyata memiliki persoalan yang tidak terpantau di dalamnya?
Pengalaman Menantea, bisnis minuman yang didirikan Jerome Polin dan Jehian Sijabat pada 2021, memberikan gambaran tentang risiko tersebut.
Setelah berkembang hingga memiliki ratusan gerai, Menantea mengumumkan penghentian seluruh operasionalnya pada 25 April 2026. Dalam penjelasan publik, Jehian mengakui adanya kekurangan dalam pemeriksaan latar belakang mitra bisnis dan audit internal keuangan. Mereka juga menghadapi persoalan operasional, kewajiban kepada pihak lain, serta indikasi kecurangan di dalam perusahaan.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa membangun bisnis bukan hanya tentang menemukan peluang dan memperluas pasar. Ada sistem internal yang perlu dibangun agar pertumbuhan dapat berjalan secara terkendali.
Lantas, bagaimana Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) melihat persoalan ini?
Kepercayaan Saja Tidak Cukup untuk Mengelola Organisasi
Dalam dunia kerja, kepercayaan merupakan bagian penting dari hubungan profesional. Pemimpin perlu mendelegasikan tugas, memberikan kewenangan, dan mengandalkan kompetensi orang lain agar pekerjaan dapat berjalan.
Namun, kepercayaan tidak seharusnya menggantikan mekanisme pengawasan.
Bayangkan sebuah perusahaan yang menyerahkan seluruh pengelolaan keuangan kepada satu orang. Pemilik hanya menerima laporan secara berkala dan menganggap semuanya berjalan baik selama tidak ada masalah yang terlihat.
Jika laporan tersebut tidak diperiksa melalui mekanisme verifikasi yang memadai, perusahaan berisiko terlambat mengetahui adanya ketidaksesuaian.
Masalahnya bukan semata-mata karena seseorang dipercaya. Masalahnya muncul ketika organisasi tidak memiliki cara yang cukup untuk memastikan bahwa tanggung jawab dijalankan sesuai prosedur.
Dalam perspektif PIO dan perilaku organisasi, hal ini berkaitan dengan organizational control, yaitu mekanisme yang digunakan organisasi untuk memastikan kegiatan, keputusan, dan hasil kerja tetap sejalan dengan tujuan serta aturan yang ditetapkan.
Bentuknya dapat berupa pembagian wewenang yang jelas, pelaporan berkala, evaluasi kinerja, pemeriksaan transaksi, dan audit internal.
Dengan mekanisme tersebut, organisasi tidak harus terus-menerus mencurigai karyawannya. Kepercayaan tetap dapat diberikan, tetapi tanggung jawab profesional juga dapat diperiksa secara objektif.
Organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak membutuhkan kepercayaan, melainkan organisasi yang tidak menjadikan kepercayaan sebagai satu-satunya sistem pengaman.
Pertumbuhan Bisnis Harus Diikuti Kesiapan Organisasi
Menantea pernah berkembang dengan cepat dan memiliki lebih dari 200 gerai. Namun, memperbanyak cabang bukan hanya berarti memperluas jangkauan pasar. Semakin besar jaringan bisnis, semakin kompleks pula proses yang harus dikelola.
Setiap cabang melibatkan aktivitas operasional, pengelolaan bahan baku, pencatatan keuangan, pelayanan pelanggan, dan hubungan dengan mitra. Semua itu perlu berjalan dengan standar yang relatif konsisten.
Ketika perusahaan masih memiliki sedikit cabang, pemilik mungkin dapat memantau kegiatan secara langsung. Namun, ketika jumlah cabang bertambah, pendekatan yang sama menjadi semakin sulit diterapkan.
Perusahaan membutuhkan sistem yang mampu memberikan gambaran tentang kondisi setiap cabang tanpa harus menunggu masalah menjadi besar.
Misalnya, perusahaan perlu memantau apakah laporan penjualan sesuai dengan transaksi, apakah pembayaran kepada pemasok berjalan tepat waktu, apakah standar operasional dipenuhi, dan apakah terdapat perbedaan mencolok antara laporan dengan kondisi di lapangan.
Jika indikator tersebut tidak dipantau secara rutin, persoalan dapat berlangsung tanpa segera terdeteksi.
Dari perspektif PIO, kondisi ini berkaitan dengan desain organisasi dan kejelasan tanggung jawab. Struktur kerja perlu berkembang mengikuti kompleksitas bisnis, bukan sekadar mengikuti pertambahan jumlah cabang.
Pertumbuhan yang sehat bukan hanya tentang seberapa banyak cabang berhasil dibuka, tetapi juga tentang kemampuan organisasi menjaga kualitas, konsistensi, dan akuntabilitas di seluruh jaringan bisnisnya.
Ketika Pemimpin Belum Memiliki Pengetahuan yang Cukup tentang Bisnis
Dalam penjelasannya, Jehian mengakui bahwa Menantea merupakan perusahaan pertama yang mereka bangun dan bahwa mereka belum memiliki kesiapan serta pengetahuan bisnis yang cukup pada saat itu.
Pengakuan ini membuka pembahasan lain: kemampuan yang membawa seseorang menuju keberhasilan dalam satu bidang belum tentu secara otomatis membekalinya untuk mengelola seluruh aspek bisnis.
Kemampuan membangun audiens, menyampaikan ide, dan menciptakan merek yang dikenal publik merupakan kompetensi yang berbeda dari kemampuan mengelola operasional, mengawasi keuangan, mengevaluasi mitra, dan merancang sistem pengendalian internal.
Dalam PIO, pembahasan ini berkaitan dengan kompetensi kepemimpinan dan kesesuaian antara kompetensi individu dengan tuntutan peran.
Ketika tanggung jawab semakin besar, tuntutan terhadap pemimpin juga berubah. Mereka tidak harus menjadi ahli dalam setiap bidang, tetapi perlu memahami risiko utama bisnis, mengetahui informasi yang harus diperiksa, dan memastikan orang yang memiliki keahlian relevan menjalankan fungsi dengan mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.
Pemimpin juga perlu menyadari batas pengetahuannya sendiri.
Ketika belum memahami suatu bidang, mencari tenaga profesional atau mendelegasikan pekerjaan dapat menjadi langkah yang tepat. Namun, pendelegasian tidak berarti menyerahkan seluruh tanggung jawab tanpa mekanisme evaluasi.
Mempercayai orang yang lebih ahli adalah bagian dari kepemimpinan. Memastikan pekerjaan mereka dapat dipertanggungjawabkan juga merupakan bagian dari kepemimpinan.
Akuntabilitas Bukan Berarti Tidak Mempercayai Orang Lain
Salah satu kekeliruan dalam memahami pengawasan adalah menganggapnya sebagai tanda ketidakpercayaan.
Padahal, kepercayaan dan akuntabilitas memiliki fungsi yang berbeda.
Kepercayaan memberikan ruang bagi seseorang untuk menjalankan tugas dan mengambil keputusan. Sementara itu, akuntabilitas memastikan bahwa keputusan serta hasil pekerjaan dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan.
Dalam praktik organisasi, keduanya perlu berjalan beriringan.
Misalnya, seorang manajer keuangan dapat diberikan kewenangan untuk menjalankan transaksi sesuai batas yang telah ditetapkan. Namun, transaksi tetap perlu memiliki bukti yang sah, laporan yang dapat diverifikasi, dan pemeriksaan oleh pihak yang sesuai.
Begitu pula ketika perusahaan bekerja sama dengan mitra bisnis. Hubungan profesional tidak cukup dibangun berdasarkan reputasi atau kedekatan personal. Perusahaan perlu melakukan pemeriksaan latar belakang, menyepakati pembagian tanggung jawab, menentukan standar kinerja, dan mengevaluasi pelaksanaan kerja sama secara berkala.
Mekanisme tersebut tidak menjamin bahwa semua risiko akan hilang. Namun, sistem yang memadai dapat membantu organisasi menemukan ketidaksesuaian lebih awal dan membatasi dampaknya.
Dalam kasus Menantea, pengakuan tentang kurangnya pemeriksaan calon mitra dan tidak rutinnya audit keuangan menunjukkan pentingnya kedua mekanisme tersebut. Meski demikian, persoalan bisnis yang kompleks tidak bisa dijelaskan hanya melalui satu faktor.
Apa yang Bisa Dipelajari Perusahaan dari Kasus Menantea?
Pelajaran dari Menantea tidak terbatas pada pemilik bisnis atau perusahaan yang sedang berkembang. Organisasi dengan berbagai ukuran juga dapat mengevaluasi bagaimana tanggung jawab, informasi, dan pengawasan dikelola.
Ada tiga hal yang dapat menjadi perhatian.
Pertama, pastikan tanggung jawab dan kewenangan jelas.
Setiap orang perlu memahami apa yang menjadi tanggung jawabnya, keputusan apa yang boleh diambil, dan kepada siapa hasil pekerjaannya harus dilaporkan. Hindari situasi ketika satu orang mengendalikan seluruh proses tanpa pemeriksaan yang memadai.
Kedua, bangun pemantauan berbasis data.
Perusahaan perlu menentukan indikator yang relevan dengan operasional dan kinerja bisnis. Data tidak cukup hanya dikumpulkan; data harus diperiksa, dibandingkan dengan kondisi aktual, dan digunakan untuk mengidentifikasi penyimpangan.
Ketiga, evaluasi sistem secara berkala.
Pemeriksaan tidak seharusnya baru dilakukan ketika masalah sudah membesar. Evaluasi rutin terhadap proses kerja, mitra, laporan keuangan, dan pencapaian operasional dapat membantu perusahaan mengenali risiko lebih awal.
Bagi pemimpin, hal ini juga berarti tidak hanya menilai apakah tim berhasil mencapai target, tetapi memahami bagaimana target tersebut dicapai dan apakah prosesnya sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Dengan demikian, organisasi tidak sekadar bereaksi terhadap masalah, melainkan membangun mekanisme untuk mengurangi kemungkinan masalah serupa terulang.
Bisnis yang Bertahan Membutuhkan Lebih dari Sekadar Kepercayaan
Menantea menjadi contoh bahwa popularitas dan pertumbuhan tidak otomatis menunjukkan bahwa seluruh sistem internal perusahaan sudah siap menghadapi kompleksitas bisnis.
Kepercayaan memang dibutuhkan untuk membangun kerja sama. Namun, ketika organisasi semakin besar, kepercayaan perlu didukung pembagian tanggung jawab yang jelas, pengawasan yang konsisten, dan informasi yang dapat diverifikasi.
Dari perspektif PIO, tantangannya bukan membuat pemimpin mengawasi setiap tindakan karyawan secara berlebihan. Tantangannya adalah merancang sistem kerja yang memungkinkan orang menjalankan tanggung jawabnya dengan baik sekaligus memastikan bahwa hasil dan prosesnya dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab, organisasi tidak seharusnya bergantung hanya pada asumsi bahwa semua orang akan selalu melakukan hal yang benar.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan oleh setiap pemimpin bukan hanya, “Siapa yang bisa saya percaya?”
Melainkan juga, “Apakah sistem yang saya bangun mampu mendeteksi masalah ketika kepercayaan itu ternyata tidak cukup?”
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
aditidevelopmentcenter@gmail.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
