Mengapa Banyak Orang Bertahan di Pekerjaan yang Tidak Lagi Mereka Sukai? Perspektif Psikologi Organisasi tentang Job Hugging
Sederhananya, job hugging menggambarkan kondisi ketika seseorang memilih bertahan di pekerjaannya meskipun sudah tidak lagi merasa puas, termotivasi, atau berkembang.
KARYAWANPERUSAHAANKRISIS KEPERCAYAAN
Andhika Buana
10/3/20263 min read


Pernah merasa lelah dengan pekerjaan sendiri?
Setiap Senin terasa berat, motivasi mulai menurun, pekerjaan yang dulu terasa menantang kini terasa monoton. Bahkan mungkin sudah beberapa kali membuka situs lowongan kerja atau memperbarui CV.
Namun pada akhirnya, tetap bertahan, tetap datang bekerja, tetap menjalankan tugas seperti biasa. Fenomena ini semakin sering dibicarakan di dunia kerja dan dikenal dengan istilah job hugging.
Sederhananya, job hugging menggambarkan kondisi ketika seseorang memilih bertahan di pekerjaannya meskipun sudah tidak lagi merasa puas, termotivasi, atau berkembang. Bukan karena semuanya baik-baik saja, tetapi karena merasa keluar dari pekerjaan saat ini terlalu berisiko.
Dari perspektif Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), fenomena ini jauh lebih kompleks daripada sekadar "tidak berani resign."
Bertahan Tidak Selalu Berarti Bahagia
Dalam dunia kerja, ada satu asumsi yang sering muncul. Jika seseorang tidak resign, berarti ia masih nyaman bekerja.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Banyak karyawan yang tetap bertahan meskipun sudah merasa jenuh, frustrasi, atau kehilangan semangat terhadap pekerjaannya.
Mereka masih menyelesaikan tugas, masih mengikuti rapat, masih memenuhi target. Namun secara psikologis, keterikatannya terhadap pekerjaan mulai berkurang. Di sinilah penting untuk membedakan antara retention dan engagement.
Retention berarti seseorang tetap berada di organisasi. Engagement berarti seseorang masih memiliki energi, motivasi, dan keterlibatan terhadap pekerjaannya. Seseorang bisa bertahan tanpa benar-benar terlibat dan itulah yang sering terjadi dalam fenomena job hugging.
Mengapa Banyak Orang Memilih Bertahan?
Jika pekerjaan sudah tidak lagi memberikan kepuasan, mengapa tidak mencari tempat lain?
Jawabannya sering kali berkaitan dengan ketidakpastian. Dalam Psikologi Organisasi terdapat konsep yang disebut continuance commitment, yaitu kondisi ketika seseorang bertahan karena merasa biaya untuk keluar terlalu besar.
Misalnya:
takut kehilangan penghasilan,
khawatir sulit mendapatkan pekerjaan baru,
tidak ingin kehilangan tunjangan dan fasilitas,
memiliki tanggungan keluarga,
atau merasa situasi ekonomi belum cukup aman untuk mengambil risiko.
Dalam kondisi pasar kerja yang penuh ketidakpastian, alasan-alasan tersebut menjadi semakin kuat. Akibatnya, banyak orang memilih bertahan meskipun sebenarnya sudah tidak lagi merasa terhubung dengan pekerjaannya.
Ketika Rasa Aman Mengalahkan Keinginan Bertumbuh
Manusia secara alami cenderung menghindari risiko. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai loss aversion. Artinya, rasa takut kehilangan sesuatu sering kali lebih kuat dibanding harapan mendapatkan sesuatu yang lebih baik.
Misalnya, seseorang mungkin tidak lagi menikmati pekerjaannya. Namun pekerjaan tersebut masih memberikan gaji yang stabil, masih memberikan rasa aman, masih memberikan kepastian.
Akibatnya, keputusan untuk bertahan terasa lebih nyaman dibanding menghadapi ketidakpastian di tempat baru.
Masalahnya, ketika kondisi ini berlangsung terlalu lama, seseorang bisa mulai mengalami stagnasi.
Bukan karena tidak mampu berkembang, tetapi karena terlalu lama berada dalam situasi yang tidak lagi memberikan tantangan maupun kesempatan belajar.
Dampaknya bagi Individu
Job hugging tidak selalu terlihat sebagai masalah, karena secara kasat mata, pekerjaan masih berjalan seperti biasa. Namun dalam jangka panjang, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan.
Pertama, motivasi kerja dapat terus menurun.
Ketika seseorang tidak lagi melihat peluang berkembang, pekerjaan perlahan berubah menjadi rutinitas yang dijalankan sekadar untuk memenuhi kewajiban.
Kedua, perkembangan kompetensi bisa melambat. Orang cenderung belajar ketika mereka tertantang. Jika tantangan itu hilang, proses pembelajaran juga dapat ikut melambat.
Ketiga, muncul risiko kelelahan psikologis, bukan karena pekerjaan terlalu berat.
Melainkan karena menjalani sesuatu yang sudah tidak lagi memberikan makna atau tujuan yang jelas.
Dampaknya bagi Organisasi
Dari sisi perusahaan, job hugging sering kali lebih sulit dideteksi dibanding turnover. Jika karyawan resign, dampaknya langsung terlihat.
Namun jika karyawan tetap bertahan tanpa keterlibatan yang kuat, dampaknya sering muncul secara perlahan.
Misalnya:
ide baru semakin jarang muncul,
inisiatif berkurang,
semangat belajar menurun,
kolaborasi menjadi pasif,
dan performa berjalan pada tingkat minimum yang dianggap cukup.
Dalam Psikologi Organisasi, kondisi ini sering dikaitkan dengan presenteeism.
Yaitu ketika seseorang hadir secara fisik di tempat kerja, tetapi energi, motivasi, dan keterlibatan psikologisnya tidak lagi optimal.
Bagi organisasi, kondisi ini bisa menjadi tantangan besar karena tidak selalu terlihat dalam laporan turnover atau absensi.
Apakah Solusinya Harus Resign?
Tidak selalu. Job hugging bukan berarti seseorang harus segera keluar dari pekerjaannya.
Namun fenomena ini dapat menjadi sinyal untuk melakukan refleksi.
Apakah pekerjaan saat ini masih memberikan ruang belajar?
Apakah masih ada peluang berkembang?
Apakah tantangan yang dihadapi masih relevan dengan tujuan karier jangka panjang?
Jika jawabannya tidak, mungkin sudah saatnya mulai mengeksplorasi pilihan lain. Bukan harus langsung berpindah kerja. Tetapi mulai memperluas kompetensi, membangun personal branding, memperkuat jaringan profesional, atau mempersiapkan langkah karier berikutnya.
Karena terkadang masalahnya bukan pada pekerjaan saat ini, melainkan pada fakta bahwa seseorang sudah terlalu lama berhenti bertumbuh.
Penutup
Fenomena job hugging menunjukkan bahwa tidak semua orang yang bertahan di pekerjaannya benar-benar merasa terlibat dengan pekerjaannya, sebagian bertahan karena alasan ekonomi, sebagian karena takut menghadapi ketidakpastian, sebagian lagi karena merasa belum memiliki alternatif yang lebih baik.
Dari perspektif Psikologi Industri dan Organisasi, kondisi ini mengingatkan kita bahwa bertahan dan berkembang adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa bertahan selama bertahun-tahun di organisasi yang sama.
Namun pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah selama bertahan, ia juga terus bertumbuh?
Karena pada akhirnya, karier yang sehat bukan hanya tentang memiliki pekerjaan, tetapi juga tentang memiliki kesempatan untuk berkembang, belajar, dan menemukan makna dalam pekerjaan yang dijalani setiap hari.
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
aditidevelopmentcenter@gmail.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
