Nike Meliburkan Seluruh Karyawannya Selama Seminggu. Tapi Apakah Burnout Bisa Selesai Hanya dengan Libur?
Pada tahun 2021, Nike mengambil langkah yang cukup tidak biasa.
EMPLOYEE ASSISTANCE PROGRAMPERUSAHAANKONSULTAN HR
Andhika Buana
8/10/20263 min read


Perusahaan tersebut menutup operasional kantor pusatnya selama satu minggu penuh dan meminta karyawan untuk benar-benar berhenti bekerja. Tidak ada rapat. Tidak ada email. Tidak ada target yang harus dikejar. Tujuannya sederhana: membantu karyawan beristirahat dan memulihkan diri dari kelelahan yang meningkat selama pandemi.
Langkah ini mendapat banyak pujian.
Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, keputusan Nike dianggap sebagai bukti bahwa perusahaan mulai memperhatikan kesejahteraan karyawannya.
Namun dari perspektif Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), muncul pertanyaan yang lebih menarik:
Apakah burnout benar-benar bisa diselesaikan hanya dengan memberikan waktu istirahat?
Karena jika jawabannya sesederhana itu, seharusnya setiap orang yang mengambil cuti panjang akan kembali bekerja dengan kondisi yang sepenuhnya pulih.
Nyatanya tidak selalu demikian.
Burnout Bukan Sekadar Capek
Salah satu kesalahan paling umum adalah menganggap burnout sama dengan kelelahan biasa.
Padahal menurut WHO, burnout merupakan sindrom yang muncul akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. Burnout ditandai oleh tiga hal utama:
kelelahan emosional dan energi yang terkuras,
munculnya sikap sinis atau menjauh dari pekerjaan,
menurunnya rasa efektif dan percaya diri terhadap kemampuan kerja sendiri.
Artinya, burnout bukan hanya tentang kurang tidur atau terlalu banyak pekerjaan.
Burnout menyangkut hubungan seseorang dengan pekerjaannya.
Mengapa Libur Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah?
Bayangkan seseorang mengalami burnout karena:
target yang tidak realistis,
rapat yang tidak ada habisnya,
atasan yang sulit diajak berdiskusi,
budaya kerja yang menuntut selalu online,
atau peran yang tidak jelas.
Lalu orang tersebut mengambil cuti satu minggu.
Mungkin energi fisiknya pulih.
Tetapi ketika kembali bekerja, ia akan kembali menghadapi sistem yang sama.
Masalahnya belum hilang.
Hanya berhenti sementara.
Inilah alasan mengapa banyak pakar burnout menilai bahwa pemulihan individu perlu diikuti dengan perubahan organisasi. Bahkan berbagai analisis pasca-kasus Nike mempertanyakan apakah tambahan waktu libur saja cukup jika akar masalah pekerjaan tetap tidak berubah.
Burnout Sering Kali Berasal dari Sistem Kerja
Ketika mendengar kata burnout, banyak organisasi tanpa sadar langsung fokus pada individu.
Karyawan dianggap:
kurang tangguh,
kurang mampu mengelola stres,
atau kurang menjaga keseimbangan hidup.
Padahal WHO justru menempatkan burnout sebagai fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan (occupational phenomenon).
Dengan kata lain:
Burnout bukan hanya masalah orangnya.
Burnout sering kali merupakan sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam sistem kerja.
WHO bahkan mengidentifikasi berbagai faktor organisasi yang berkontribusi terhadap stres kerja dan burnout, seperti beban kerja berlebihan, kurangnya kontrol terhadap pekerjaan, tekanan waktu, jam kerja panjang, dan minimnya dukungan.
Pelajaran Terbesar dari Nike Bukanlah Liburnya
Banyak orang fokus pada fakta bahwa Nike memberikan libur seminggu.
Padahal pelajaran yang lebih penting adalah pengakuan bahwa burnout merupakan masalah yang layak dibahas secara organisasi.
Selama bertahun-tahun, banyak perusahaan menganggap kelelahan kerja sebagai urusan pribadi karyawan.
Jika stres, karyawan diminta lebih kuat.
Jika lelah, karyawan diminta lebih tangguh.
Jika burnout, karyawan diminta belajar mengelola waktu.
Nike mengirim pesan yang berbeda.
Mereka mengakui bahwa organisasi juga memiliki tanggung jawab terhadap kesehatan mental tenaga kerjanya.
Dan itu adalah langkah yang penting.
Pertanyaan yang Perlu Diajukan HR dan Leader
Daripada bertanya:
"Apakah karyawan kita butuh lebih banyak cuti?"
Mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah target kerja yang diberikan masih realistis?
Apakah jumlah SDM sesuai dengan beban kerja?
Apakah karyawan memiliki kontrol terhadap pekerjaannya?
Apakah mereka merasa aman menyampaikan masalah?
Apakah budaya kerja mendorong orang untuk selalu tersedia setiap saat?
Karena sering kali burnout bukan muncul karena karyawan tidak kuat.
Burnout muncul karena sistem kerja terus mengambil energi lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memulihkannya.
Memberikan waktu istirahat adalah langkah yang baik.
Namun istirahat bukanlah obat untuk semua jenis burnout.
Jika akar masalahnya ada pada desain pekerjaan, budaya organisasi, kepemimpinan, atau beban kerja yang tidak sehat, maka burnout akan kembali muncul begitu karyawan kembali membuka laptopnya.
Mungkin inilah pertanyaan yang perlu direnungkan oleh setiap organisasi:
Apakah kita sedang membantu karyawan pulih dari burnout, atau hanya memberi mereka waktu untuk beristirahat sebelum kembali ke sistem yang membuat mereka burnout?
Karena pada akhirnya, organisasi yang sehat bukan hanya membantu karyawan beristirahat.
Organisasi yang sehat juga memastikan bahwa mereka tidak terus-menerus kehabisan energi untuk bertahan di dalamnya.
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
helloadc@aditidevelopmentcenter.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
