Orang Tidak Selalu Dipecat. Kadang Mereka Dibuat Lelah Sampai Memilih Pergi
Ketika Resign Bukan Lagi Keputusan Pribadi
Andhika Buana
9/7/20262 min read


Pada banyak perusahaan, pengunduran diri sering dianggap sebagai keputusan individual. Karyawan dianggap tidak kuat menghadapi tekanan, tidak cocok dengan budaya perusahaan, atau menemukan peluang yang lebih baik di tempat lain.
Namun dalam praktiknya, tidak semua karyawan yang resign benar-benar pergi karena keinginannya sendiri. Sebagian justru keluar setelah mengalami proses panjang yang membuat mereka perlahan kehilangan ruang untuk berkembang.
Fenomena ini semakin sering dibahas dalam literatur Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) dengan istilah Quiet Firing, Constructive Dismissal, dan Workplace Ostracism. Alih-alih memecat secara langsung, organisasi secara tidak sadar maupun sengaja menciptakan kondisi yang membuat seseorang memilih keluar sendiri.
Fenomena Quiet Firing yang Mulai Banyak Terjadi
Istilah Quiet Firing mulai populer setelah gelombang Great Resignation pasca pandemi.
Menurut laporan Gallup dan berbagai kajian SDM global, quiet firing terjadi ketika perusahaan tidak secara resmi memberhentikan karyawan, tetapi mengurangi dukungan, kesempatan berkembang, dan keterlibatan mereka dalam pekerjaan.
Bentuknya sering kali terlihat sederhana:
Tidak lagi dilibatkan dalam proyek strategis.
Jalur promosi menjadi tidak jelas.
Feedback jarang diberikan.
Pendapat tidak lagi didengarkan.
Hubungan dengan atasan menjadi semakin dingin.
Secara administratif tidak ada pelanggaran. Namun secara psikologis, karyawan mulai menerima pesan:
"Kamu masih bekerja di sini, tapi keberadaanmu tidak lagi dianggap penting."
Mengapa Dampaknya Sangat Besar?
Dalam teori Need to Belong yang dikembangkan Baumeister & Leary, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa diterima dalam kelompok sosialnya. Tempat kerja bukan hanya sumber pendapatan. Bagi banyak orang, tempat kerja juga menjadi sumber identitas, relasi sosial, dan pengakuan diri.
Ketika seseorang terus-menerus merasa diabaikan, otak memproses pengalaman tersebut sebagai ancaman sosial. Penelitian Ferris dkk. menemukan bahwa workplace ostracism berkorelasi dengan:
Burnout lebih tinggi.
Penurunan engagement.
Penurunan performa kerja.
Meningkatnya turnover intention.
Menariknya, banyak karyawan mengaku lebih terluka karena diabaikan daripada dimarahi, karena kritik masih menunjukkan bahwa keberadaan mereka dianggap. Sebaliknya, pengabaian membuat seseorang merasa tidak terlihat.
Studi Kasus yang Sering Terjadi di Perusahaan
Bayangkan seorang karyawan yang selama lima tahun selalu terlibat dalam proyek besar. Suatu hari terjadi pergantian pimpinan.
Perlahan:
Ia tidak lagi diundang dalam rapat penting.
Proyek-proyek strategis diberikan kepada orang lain.
Ide yang diajukan tidak pernah ditindaklanjuti.
Tidak ada penjelasan mengenai perubahan tersebut.
Secara formal ia masih memiliki jabatan yang sama. Namun secara psikologis, perannya sudah hilang. Situasi seperti inilah yang sering menjadi awal munculnya keputusan resign.
Bukan karena pekerjaan terlalu berat, tetapi karena harga emosional untuk tetap bertahan menjadi terlalu mahal.
Dari Sudut Pandang PIO: Organisasi Juga Bisa Menjadi Penyebab Turnover
Banyak perusahaan menganggap turnover sebagai masalah individu. Padahal dalam PIO, turnover sering menjadi indikator kondisi organisasi.
Ketika banyak karyawan berkinerja baik memilih pergi, pertanyaan yang lebih penting bukan:
"Kenapa mereka resign?"
Melainkan:
"Apa yang membuat mereka tidak lagi ingin bertahan?"
Karena kehilangan talenta terbaik sering kali bukan disebabkan oleh kompetitor yang menawarkan gaji lebih tinggi. Melainkan oleh pengalaman kerja yang membuat mereka merasa tidak lagi memiliki tempat.
Apa yang Bisa Dilakukan Perusahaan?
Untuk mencegah fenomena ini, perusahaan perlu membangun:
1. Psychological Safety
Karyawan harus merasa aman untuk berbicara, berpendapat, dan berbeda pandangan.
2. Feedback yang Transparan
Jika memang ada masalah performa, sampaikan secara terbuka dan profesional.
3. Career Conversation
Diskusi karier rutin membantu karyawan memahami posisi dan masa depannya dalam organisasi.
4. Sense of Belonging
Karyawan yang merasa dihargai cenderung bertahan lebih lama dibanding karyawan yang hanya menerima kompensasi tinggi.
Penutup
Tidak semua orang yang resign adalah orang yang menyerah, tidak semua pengunduran diri terjadi karena gaji, tidak semua karyawan pergi karena menemukan tempat yang lebih baik. Kadang mereka pergi karena terlalu lama merasa tidak lagi dibutuhkan dan ketika surat resign akhirnya ditandatangani, keputusan itu sering kali bukan muncul dalam semalam.
Melainkan hasil dari ratusan pengalaman kecil yang secara perlahan membuat seseorang merasa bahwa tempat tersebut sudah tidak lagi menyediakan ruang untuknya.
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
aditidevelopmentcenter@gmail.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
