Sebelum Menjadi CEO, Renaldo Santosa Diuji di Divisi yang Bermasalah. Inilah Cara Organisasi Menyiapkan Pemimpin Masa Depan
Ketika mendengar seseorang menjadi CEO perusahaan keluarga, banyak orang langsung berasumsi bahwa jalannya pasti lebih mudah.
PERUSAHAANPEMIMPINKARYAWAN
Andhika Buana
10/7/20263 min read


Ketika mendengar seseorang menjadi CEO perusahaan keluarga, banyak orang langsung berasumsi bahwa jalannya pasti lebih mudah.
Apalagi jika perusahaan tersebut merupakan salah satu kelompok bisnis terbesar di industrinya.
Namun pertanyaan yang lebih menarik bukanlah bagaimana seseorang mendapatkan jabatan tersebut.
Melainkan bagaimana seseorang membuktikan bahwa ia layak memegangnya.
Dalam banyak organisasi, terutama perusahaan keluarga, tantangan terbesar bukan mencari penerus.
Tantangan terbesarnya adalah memastikan penerus tersebut benar-benar siap memimpin.
Kisah Renaldo Santosa di Japfa memberikan pelajaran menarik tentang bagaimana proses itu terjadi.
Bukan melalui promosi instan.
Tetapi melalui pengalaman, tantangan, dan pembuktian yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Pemimpin Masa Depan Tidak Langsung Ditempatkan di Puncak
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam organisasi adalah menganggap kepemimpinan bisa dipelajari setelah seseorang menduduki jabatan tertentu.
Padahal dalam Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), kepemimpinan yang efektif biasanya dibangun jauh sebelum seseorang menerima posisi tertinggi.
Renaldo memulai kariernya di Japfa bukan sebagai CEO atau direktur.
Ia memulai dari peran yang lebih operasional sebagai Business Development.
Setelah beberapa tahun, ia berkembang ke posisi yang lebih besar.
Namun yang menarik, sebelum dipercaya memimpin perusahaan, ia terlebih dahulu diminta menangani unit bisnis yang sedang menghadapi tantangan.
Dari perspektif PIO, langkah ini menunjukkan bahwa organisasi tidak sedang mencari pewaris jabatan.
Mereka sedang menguji kesiapan seorang pemimpin.
Mengapa Pemimpin Justru Ditempatkan di Situasi Sulit?
Banyak orang ingin membuktikan kemampuan ketika semuanya berjalan baik.
Namun organisasi sering kali belajar lebih banyak tentang calon pemimpinnya ketika situasi sedang tidak baik.
Ketika target tidak tercapai.
Ketika tim menghadapi masalah.
Ketika performa bisnis menurun.
Dalam dunia pengembangan kepemimpinan, pendekatan ini dikenal sebagai stretch assignment.
Yaitu penugasan yang sengaja diberikan di luar zona nyaman seseorang untuk mempercepat proses pembelajaran dan pengembangan kapasitas kepemimpinan.
Karena kemampuan memimpin tidak hanya terlihat dari kemampuan mempertahankan kondisi yang baik.
Kemampuan memimpin terlihat ketika seseorang mampu memperbaiki kondisi yang bermasalah.
Melalui tantangan seperti inilah organisasi dapat melihat bagaimana seseorang mengambil keputusan, menghadapi tekanan, membangun tim, dan menjalankan perubahan.
Kepemimpinan Tidak Selalu Dimulai dari Solusi Besar
Salah satu hal menarik dari upaya perbaikan yang dilakukan Renaldo adalah fokusnya pada penguatan dukungan teknis dan penciptaan nilai tambah bagi pelanggan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa transformasi tidak selalu dimulai dari keputusan besar atau perubahan yang spektakuler.
Sering kali perubahan organisasi dimulai dari pemahaman terhadap akar masalah.
Dalam PIO, pemimpin yang efektif tidak hanya berfokus pada hasil akhir.
Mereka berusaha memahami sistem yang menghasilkan hasil tersebut.
Karena memperbaiki performa organisasi sering kali membutuhkan perbaikan pada proses, kolaborasi, dan cara kerja sehari-hari.
Bukan sekadar menetapkan target yang lebih tinggi.
Membangun Kredibilitas Sebelum Mendapatkan Jabatan
Salah satu tantangan terbesar bagi penerus perusahaan keluarga adalah persepsi.
Ketika seseorang berasal dari keluarga pemilik, sering muncul pertanyaan:
Apakah posisi tersebut diperoleh karena kompetensi atau hubungan keluarga?
Karena itu, membangun kredibilitas menjadi hal yang sangat penting.
Dalam Psikologi Organisasi, kredibilitas pemimpin biasanya terbentuk dari kombinasi tiga hal:
kompetensi,
pengalaman,
dan hasil kerja yang dapat dilihat.
Ketika seseorang mampu menunjukkan kontribusi nyata sebelum menduduki posisi tertinggi, penerimaan dari organisasi cenderung lebih kuat.
Karyawan tidak hanya melihat siapa orang tersebut.
Mereka juga melihat apa yang telah berhasil ia lakukan.
Di sinilah pengalaman memimpin unit bisnis yang menantang menjadi sangat penting.
Karena pengalaman tersebut menjadi bukti, bukan sekadar potensi.
Succession Planning Bukan Tentang Siapa yang Menggantikan
Banyak organisasi menganggap suksesi hanya sebagai proses memilih siapa yang akan menggantikan pemimpin saat ini.
Padahal dalam PIO, succession planning memiliki makna yang jauh lebih luas.
Succession planning adalah proses mempersiapkan individu agar memiliki kompetensi, pengalaman, dan kesiapan untuk memimpin ketika organisasi membutuhkannya.
Artinya, fokusnya bukan pada jabatan.
Fokusnya adalah pada kesiapan.
Organisasi yang memiliki sistem suksesi yang baik biasanya tidak menunggu sampai posisi kosong untuk mulai menyiapkan pemimpin baru.
Mereka mengembangkan calon pemimpin jauh sebelum posisi tersebut tersedia.
Karena kepemimpinan tidak bisa dibangun secara instan.
Ketika Kepercayaan Menjadi Modal Kepemimpinan
Perubahan kepemimpinan selalu membawa ketidakpastian.
Karyawan ingin tahu apakah arah organisasi akan berubah.
Investor ingin tahu apakah performa perusahaan dapat dipertahankan.
Pemangku kepentingan ingin tahu apakah pemimpin baru mampu menjalankan tanggung jawabnya.
Dalam kondisi seperti ini, kepercayaan menjadi modal yang sangat penting.
Dan kepercayaan tidak dibangun melalui jabatan.
Kepercayaan dibangun melalui konsistensi antara kompetensi, keputusan, dan hasil yang ditunjukkan seorang pemimpin.
Karena itu, tahun-tahun sebelum seseorang menjadi CEO sering kali sama pentingnya dengan tahun-tahun setelahnya.
Penutup
Kisah Renaldo Santosa menunjukkan bahwa menyiapkan pemimpin masa depan bukan sekadar tentang memilih siapa yang akan menduduki jabatan tertinggi.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa orang tersebut memiliki pengalaman, pembelajaran, dan kredibilitas yang cukup sebelum memegang tanggung jawab besar.
Dari perspektif Psikologi Industri dan Organisasi, pemimpin tidak dibentuk hanya melalui pelatihan atau pendidikan formal.
Pemimpin dibentuk melalui pengalaman nyata menghadapi tantangan, mengambil keputusan, memperbaiki masalah, dan membangun kepercayaan.
Karena pada akhirnya, organisasi yang kuat tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin hari ini.
Tetapi juga oleh seberapa baik mereka mempersiapkan pemimpin untuk masa depan.
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
aditidevelopmentcenter@gmail.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
