Sudah Berjuang Bertahun-tahun, Kenapa Karier Masih Jalan di Tempat? Belajar dari Hwang Dong-man
Perasaan itu tergambar dalam karakter Hwang Dong-man di drama Korea We Are All Trying Here.
KARYAWANGEN ZPENGEMBANGAN KARYAWAN
Andhika Buana
10/9/20263 min read


Pernah merasa sudah berusaha keras, tetapi karier justru terasa jalan di tempat?
Sementara teman-teman mulai naik jabatan, mendapat pekerjaan impian, atau membangun bisnis sendiri, kita masih berkutat dengan masalah yang sama. Sampai akhirnya muncul pertanyaan: “Apa saya memang tertinggal dari orang lain?”
Perasaan itu tergambar dalam karakter Hwang Dong-man di drama Korea We Are All Trying Here.
Selama 20 tahun, Dong-man berusaha mewujudkan mimpinya menjadi sutradara film. Ia bahkan sudah menulis 14 skenario, tetapi belum berhasil menyutradarai satu film pun. Di sisi lain, teman-temannya dalam kelompok The Eight Club sudah lebih dahulu menemukan tempat di industri perfilman.
Bagi Dong-man, melihat keberhasilan teman-temannya bukan sekadar menyaksikan pencapaian orang lain. Hal itu juga menjadi pengingat bahwa dirinya belum sampai di tempat yang sama.
Situasi ini dekat dengan kehidupan profesional. Kita bisa saja sudah belajar, bekerja keras, dan mencoba berbagai kesempatan, tetapi tetap merasa gagal ketika menggunakan pencapaian orang lain sebagai ukuran keberhasilan diri sendiri.
Ketika Membandingkan Diri Membuat Kita Merasa Tertinggal
Dalam Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), fenomena ini dapat dipahami melalui social comparison, yaitu kecenderungan seseorang mengevaluasi dirinya dengan membandingkan kemampuan atau pencapaiannya dengan orang lain.
Membandingkan diri sebenarnya tidak selalu buruk. Kita bisa belajar dari rekan kerja yang lebih berpengalaman, memahami standar keberhasilan, dan menemukan hal yang perlu dikembangkan.
Namun, masalah muncul ketika pencapaian orang lain dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menilai kemajuan diri.
Ketika teman sudah menjadi manajer, kita merasa gagal karena masih menjadi staf. Ketika orang lain berhasil pindah ke perusahaan besar, kita menganggap karier sendiri tidak berkembang.
Padahal, kita tidak selalu mengetahui keseluruhan perjalanan mereka. Kita hanya melihat hasil yang tampak, lalu membandingkannya dengan proses yang sedang kita jalani.
Akibatnya, perhatian kita lebih banyak tertuju pada apa yang belum dimiliki daripada kemampuan yang sudah berkembang.
Berusaha Keras Saja Tidak Selalu Cukup
Perjalanan Dong-man juga memberikan pelajaran lain: konsistensi penting, tetapi konsistensi saja belum tentu cukup.
Selama bertahun-tahun, ia terus menulis skenario. Namun, untuk benar-benar mewujudkan film pertamanya, ia perlu menghadapi kritik, mengevaluasi karyanya, dan melihat skenarionya dari sudut pandang yang berbeda.
Perubahan mulai terlihat ketika ia bertemu Byeon Eun-a, seorang produser yang dikenal tajam dalam memberikan penilaian terhadap skenario. Masukan Eun-a membantu Dong-man meninjau kembali karyanya dan membuka kemungkinan baru yang sebelumnya belum ia lihat.
Dalam konteks PIO, pengalaman ini berkaitan dengan feedback-seeking behavior, yaitu upaya aktif mencari atau menerima umpan balik untuk memahami kekuatan dan aspek yang perlu diperbaiki.
Umpan balik memang tidak selalu nyaman. Kritik bisa terasa seperti penolakan, apalagi ketika seseorang sudah mencurahkan banyak waktu dan tenaga pada pekerjaannya.
Namun, kritik yang relevan dapat membantu kita menemukan kesenjangan antara usaha yang dilakukan dan hasil yang ingin dicapai.
Karena itu, saat karier terasa stagnan, pertanyaannya bukan hanya, “Sudah seberapa keras saya berusaha?”
Coba tanyakan juga:
Apakah cara yang saya gunakan masih efektif?
Kemampuan apa yang perlu saya kembangkan?
Apakah saya terbuka terhadap masukan yang berbeda dari pandangan sendiri?
Dukungan atau kesempatan apa yang belum saya manfaatkan?
Pertanyaan-pertanyaan ini membantu kita mengubah rasa tertinggal menjadi bahan evaluasi yang lebih konkret.
Setiap Orang Memiliki Perjalanan Karier yang Berbeda
Dalam PIO, kita juga mengenal konsep career adaptability, yaitu kemampuan seseorang menyesuaikan diri dengan perubahan, tantangan, dan ketidakpastian dalam perjalanan karier.
Kemampuan ini bukan berarti seseorang harus selalu menerima keadaan atau terus bertahan dalam situasi yang tidak menguntungkan. Sebaliknya, seseorang perlu mampu merencanakan masa depan, mengeksplorasi pilihan, mengambil keputusan, dan menyesuaikan strategi ketika menghadapi hambatan.
Dong-man akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menyutradarai film pertamanya setelah melalui proses panjang, revisi skenario, serta dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Ia kemudian meraih penghargaan Sutradara Baru Terbaik.
Namun, pelajaran terpentingnya bukan bahwa siapa pun yang bertahan selama 20 tahun pasti akan berhasil.
Kita tidak bisa menjamin hasil yang sama bagi setiap orang. Kondisi ekonomi, akses terhadap kesempatan, dukungan lingkungan, dan berbagai faktor lain turut memengaruhi perjalanan karier seseorang.
Yang bisa kita pelajari adalah bahwa proses panjang tidak harus dijadikan alasan untuk berhenti mengevaluasi diri. Kita boleh memiliki target, tetapi kita juga perlu memberi ruang bagi perubahan arah, pembelajaran, dan strategi baru.
Jadi, Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Jika saat ini kamu merasa karier berjalan lebih lambat dibandingkan orang lain, bukan berarti seluruh usahamu sia-sia.
Cobalah melihat perjalananmu berdasarkan perkembangan yang benar-benar terjadi: keterampilan yang bertambah, pengalaman yang diperoleh, kualitas keputusan yang membaik, serta kemampuan menghadapi tantangan yang semakin matang.
Jangan hanya bertanya, “Kenapa saya belum sampai di posisi mereka?”
Tanyakan juga, “Apa yang bisa saya pelajari dari posisi saya sekarang, dan langkah apa yang perlu saya ubah untuk berkembang?”
Sebab, karier bukan hanya tentang seberapa cepat seseorang mencapai tujuan. Karier juga tentang bagaimana seseorang memahami kapasitasnya, belajar dari pengalaman, dan mengambil langkah yang lebih tepat.
Kamu tidak harus memiliki perjalanan yang sama dengan orang lain. Namun, kamu tetap perlu memastikan bahwa perjalananmu membawa kamu ke arah yang ingin dituju.
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
aditidevelopmentcenter@gmail.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
