Sulit Menolak Atasan? Mungkin Masalahnya Bukan pada Atasan
Menariknya, dari perspektif Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), fenomena ini sering kali bukan hanya tentang atasan yang memberikan pekerjaan mendadak.
GEN ZKARYAWANPENGEMBANGAN KARYAWAN
Andhika Buana
10/6/20263 min read


Akhir pekan seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat, menonton film, berkumpul dengan keluarga, berolahraga, atau sekadar menikmati waktu tanpa memikirkan pekerjaan.
Namun bagi banyak pekerja, rencana itu sering berubah dalam hitungan detik. Sebuah pesan masuk dari atasan, ada pekerjaan yang dianggap mendesak, ada kebutuhan yang harus segera diselesaikan.
Dan sebelum sempat berpikir panjang, jari sudah lebih dulu mengetik:
"Siap, Pak."
"Baik, Bu."
"Saya kerjakan."
Padahal di dalam hati, tubuh sebenarnya sudah lelah. Agenda pribadi sudah tersusun, dan energi untuk bekerja kembali belum sepenuhnya pulih. Menariknya, dari perspektif Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), fenomena ini sering kali bukan hanya tentang atasan yang memberikan pekerjaan mendadak.
Kadang masalahnya justru berawal dari sesuatu yang ada dalam diri kita sendiri.
Mengapa Kita Sulit Mengatakan Tidak?
Banyak orang mengira mereka menerima pekerjaan tambahan karena tidak punya pilihan. Namun dalam banyak kasus, keputusan untuk langsung mengatakan "iya" sering dipengaruhi oleh faktor psikologis yang lebih dalam.
Misalnya rasa takut dianggap tidak kooperatif, takut dicap tidak profesional, takut mengecewakan atasan, atau takut kehilangan penilaian positif yang selama ini dibangun. Dalam psikologi, kecenderungan ini berkaitan dengan approval seeking behavior. Yaitu dorongan untuk mendapatkan penerimaan dan pengakuan dari orang lain.
Dorongan ini sebenarnya normal. Sebagai manusia, kita memang ingin diterima oleh lingkungan sosial kita. Namun masalah muncul ketika kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan orang lain menjadi lebih penting daripada memahami kapasitas diri sendiri.
Akibatnya, kita mulai mengatakan "iya" pada hampir semua hal. Bahkan ketika sebenarnya tidak sanggup.
Ketika Kesibukan Menjadi Bukti Nilai Diri
Ada fenomena lain yang semakin sering muncul di dunia kerja modern. Sebagian orang mulai mengaitkan nilai dirinya dengan seberapa sibuk mereka. Semakin banyak pekerjaan yang diterima, semakin merasa dibutuhkan, semakin sering dicari atasan, semakin merasa penting.
Tanpa disadari, pekerjaan tambahan mulai menjadi sumber validasi.
Bukan lagi sekadar tanggung jawab. Padahal menjadi sibuk tidak selalu berarti produktif, dan menjadi dibutuhkan tidak selalu berarti harus tersedia setiap saat.
Ketika identitas diri terlalu melekat pada pekerjaan, batas antara kebutuhan organisasi dan kebutuhan pribadi mulai kabur.
Masalah yang Lebih Besar: Tidak Mengenal Batas Diri
Sering kali kita berpikir bahwa kemampuan bekerja keras adalah kekuatan dan memang benar.
Namun kemampuan mengenali batas diri sama pentingnya. Dalam PIO, kemampuan ini berkaitan dengan self-awareness. Yaitu kemampuan memahami kondisi, kapasitas, kebutuhan, dan keterbatasan diri sendiri.
Orang yang memiliki self-awareness yang baik biasanya mampu menjawab pertanyaan sederhana seperti:
Apakah saya masih punya energi untuk mengerjakan ini?
Apa dampaknya terhadap pekerjaan lain yang sedang berjalan?
Apa yang harus saya korbankan jika menerima tugas tambahan ini?
Apakah saya benar-benar mampu menyelesaikannya dengan baik?
Sebaliknya, ketika seseorang tidak memahami kapasitas dirinya sendiri, setiap permintaan akan terasa seperti kewajiban yang harus diterima.
Ketika Akhir Pekan Tidak Lagi Menjadi Waktu Pemulihan
Banyak orang menganggap istirahat sebagai hadiah setelah bekerja. Padahal dalam perspektif Human Performance, istirahat adalah bagian dari pekerjaan itu sendiri, karena manusia bukan mesin yang dapat bekerja tanpa henti.
Energi fisik dan mental membutuhkan proses pemulihan. Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan seseorang untuk melepaskan diri dari pekerjaan saat waktu istirahat berperan penting dalam menjaga fokus, kesehatan psikologis, dan performa jangka panjang.
Ketika akhir pekan terus-menerus diisi dengan pekerjaan, kesempatan untuk melakukan recovery menjadi semakin kecil.
Akibatnya, tubuh mungkin tetap bekerja. Namun energi, kreativitas, dan kualitas pengambilan keputusan perlahan menurun. Inilah yang membuat banyak orang merasa lelah meskipun tidak sedang menghadapi beban kerja yang luar biasa besar.
Belajar Memberi Respons, Bukan Reaksi
Menariknya, solusi dari masalah ini tidak selalu harus berupa penolakan. Karena tidak semua pekerjaan mendadak bisa dihindari.
Ada kalanya organisasi memang membutuhkan respons cepat. Yang perlu dibangun adalah kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan, bukan langsung bereaksi, tetapi memberi respons yang sadar.
Misalnya dengan mempertimbangkan:
prioritas pekerjaan saat ini,
kapasitas yang tersedia,
waktu yang dibutuhkan,
dan konsekuensi yang mungkin muncul.
Perbedaan beberapa menit untuk berpikir sering kali menghasilkan keputusan yang jauh lebih sehat dibanding keputusan yang diambil secara otomatis.
Penutup
Ketika pekerjaan mendadak datang di akhir pekan, mudah untuk menyalahkan atasan, organisasi, atau budaya kerja.
Namun terkadang pertanyaan yang lebih penting adalah:
Mengapa saya selalu merasa harus mengatakan "iya"?
Dari perspektif Psikologi Industri dan Organisasi, kemampuan bekerja dengan baik bukan hanya tentang menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan.
Tetapi juga tentang memahami kapan harus menerima, kapan harus menunda, dan kapan perlu menetapkan batas yang sehat. Karena pada akhirnya, performa yang berkelanjutan tidak dibangun dari kemampuan mengatakan "iya" pada semua hal.
Melainkan dari kemampuan memahami apa yang benar-benar bisa dan perlu kita lakukan dan sering kali, langkah pertama untuk membangun batas yang sehat bukan dimulai dari atasan, melainkan dari diri kita sendiri.
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
aditidevelopmentcenter@gmail.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
