Teng Go Bukan Malas. Mungkin Mereka Sedang Menyelamatkan Diri dari Burnout.

Di media sosial, istilah "Panglima Teng Go" bahkan menjadi bahan candaan sekaligus sindiran untuk Gen Z yang dianggap terlalu kaku terhadap jam kerja.

GEN ZKARYAWANWORK LIFE BALANCE

Andhika Buana

9/4/20263 min read

Jam menunjukkan pukul 17.00 laptop ditutup, tas diangkat, lalu pulang.

Bagi sebagian atasan atau generasi yang lebih senior, pemandangan ini sering memunculkan komentar yang sama:
"Anak sekarang kok teng go banget ya?"
"Belum ada loyalitas."
"Baru kerja segitu aja udah pulang."

Di media sosial, istilah "Panglima Teng Go" bahkan menjadi bahan candaan sekaligus sindiran untuk Gen Z yang dianggap terlalu kaku terhadap jam kerja, tapi pertanyaannya: Benarkah Gen Z tidak loyal? atau justru mereka sedang mencoba memperbaiki cara kita memandang pekerjaan?

Ketika Loyalitas Diukur dari Jam Pulang

Selama bertahun-tahun, banyak organisasi secara tidak sadar membangun definisi loyalitas yang sederhana:

  • Datang lebih pagi.

  • Pulang lebih malam.

  • Selalu siap membantu.

  • Selalu tersedia ketika dibutuhkan.


Semakin lama seseorang berada di kantor, semakin besar kesan bahwa ia berdedikasi. Masalahnya, dunia kerja hari ini sudah berubah. Pekerjaan modern tidak lagi hanya mengandalkan kehadiran fisik, yang dinilai bukan berapa lama seseorang duduk di depan komputer tetapi seberapa besar kontribusi yang dihasilkan.

Karena itu muncul cara pandang baru, terutama di kalangan Gen Z:
"Jika target sudah selesai, mengapa saya harus tetap berada di kantor hanya untuk terlihat sibuk?"

Gen Z Tidak Sedang Menghindari Kerja Keras

Ini salah satu kesalahpahaman terbesar, banyak orang mengira Gen Z ingin bekerja lebih sedikit. Padahal berbagai survei menunjukkan hal yang berbeda. Laporan Workplace Happiness Index Indonesia 2025–2026 dari Jobstreet by SEEK menemukan bahwa faktor nomor satu yang menentukan kebahagiaan kerja Gen Z adalah work-life balance (69%).

Bahkan berada di atas faktor promosi maupun jenjang karier, sementara survei global Deloitte menemukan bahwa sebagian besar Gen Z Indonesia tetap memiliki ambisi menjadi pemimpin di masa depan, mereka ingin berkembang, mereka ingin sukses, mereka ingin memiliki karier yang baik, namun mereka tidak ingin mencapainya dengan mengorbankan kesehatan mental, keluarga, hubungan sosial, dan kehidupan pribadinya.

Dengan kata lain:
Gen Z tidak anti kerja keras, mereka anti kerja keras yang tidak memiliki batas.

Mengapa Setelah Kerja Mereka Lebih Memilih Nongkrong?

Ini bagian yang sering disalahpahami, banyak orang melihat Gen Z pulang tepat waktu lalu berkumpul dengan teman, berolahraga, atau mengikuti komunitas.

Kemudian muncul asumsi:
"Mereka lebih mementingkan nongkrong daripada kerja."

Padahal dari sudut psikologi kerja, fenomenanya jauh lebih kompleks. Dalam teori Self-Determination Theory, manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis utama:

1. Autonomy
Merasa memiliki kendali atas hidupnya.

2. Competence
Merasa mampu dan berkembang.

3. Relatedness
Merasa terhubung dengan orang lain.

Masalahnya, banyak pekerjaan modern hanya memenuhi satu kebutuhan:
kompetensi.

Karyawan bekerja, menyelesaikan target, mengejar KPI. Namun kebutuhan akan hubungan sosial, kebebasan, dan makna sering kali tidak terpenuhi. Akibatnya setelah pulang kerja, mereka mencari ruang lain untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Mereka bertemu teman, masuk komunitas, berolahraga, mengembangkan hobi, belajar skill baru atau sekadar menghabiskan waktu dengan keluarga. Bukan karena mereka tidak produktif tetapi karena mereka sedang mengisi ulang energi psikologis yang tidak mereka dapatkan selama bekerja.

Teng Go Sebenarnya Adalah Bentuk Boundary Management

Dalam Psikologi Industri dan Organisasi terdapat konsep yang disebut Boundary Management, yaitu kemampuan seseorang memisahkan kehidupan kerja dan kehidupan pribadi.

Penelitian menunjukkan bahwa batas yang terlalu kabur antara pekerjaan dan kehidupan pribadi berhubungan dengan:

  • burnout yang lebih tinggi,

  • stres kronis,

  • kelelahan emosional,

  • konflik keluarga,

  • hingga penurunan produktivitas jangka panjang.


Karena itu banyak Gen Z yang sangat menjaga batas-batas seperti:

  • jam pulang,

  • waktu istirahat,

  • hari libur,

  • cuti,

  • hingga komunikasi pekerjaan di luar jam kerja.


Bagi mereka, menjaga batas bukan bentuk pembangkangan, melainkan strategi untuk menjaga keberlanjutan performa.

Karena mereka sadar:
Tidak ada gunanya menjadi produktif hari ini jika harus kelelahan selama enam bulan berikutnya.

Lalu Apakah Perusahaan Salah?

Belum tentu, namun ada satu hal yang perlu dipahami. Banyak organisasi masih menggunakan standar loyalitas lama untuk menilai generasi baru. Sementara generasi baru menggunakan definisi loyalitas yang berbeda.

Perusahaan melihat:
"Dia pulang tepat waktu."

Gen Z melihat:
"Saya menyelesaikan semua pekerjaan saya."

Perusahaan melihat:
"Dia tidak ikut lembur."

Gen Z melihat:
"Tidak ada kebutuhan bisnis yang mengharuskan saya lembur."

Perusahaan melihat:
"Dia kurang totalitas."

Gen Z melihat:
"Saya sedang menjaga diri agar tetap bisa berkinerja baik besok."

Di sinilah konflik sering terjadi. Bukan karena salah satu pihak benar atau salah, tetapi karena keduanya menggunakan definisi loyalitas yang berbeda.

Apa yang Bisa Dipelajari Perusahaan?

Fenomena teng go seharusnya tidak hanya dilihat sebagai perilaku individu tetapi juga sebagai sinyal perubahan budaya kerja.

Organisasi perlu mulai bertanya:

  • Apakah produktivitas masih diukur dari durasi kerja?

  • Apakah lembur menjadi budaya atau kebutuhan?

  • Apakah karyawan merasa aman untuk memiliki kehidupan di luar pekerjaan?

  • Apakah sistem kerja yang ada mendukung performa jangka panjang?


Karena generasi yang akan mendominasi dunia kerja beberapa tahun ke depan adalah generasi yang tidak hanya mencari pekerjaan, mereka mencari kehidupan yang tetap bisa berjalan setelah pekerjaan selesai.

Penutup

Mungkin selama ini kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa Gen Z malas karena pulang tepat waktu, padahal yang sedang terjadi bisa jadi jauh lebih sederhana. Mereka sedang mencoba menjawab pertanyaan yang dulu jarang ditanyakan oleh generasi sebelumnya: "Kalau pekerjaan sudah selesai, apakah saya masih berhak memiliki hidup saya sendiri?" dan mungkin, fenomena teng go bukanlah tanda menurunnya etos kerja.

Melainkan tanda bahwa generasi baru mulai menyadari satu hal penting:
Bekerja adalah bagian dari hidup. Bukan seluruh hidup itu sendiri.

Pertanyaan untuk Audiens

Menurut Anda, apakah loyalitas karyawan masih relevan diukur dari jam pulang dan kesediaan lembur? Atau sudah saatnya organisasi mulai mengukur loyalitas dari kontribusi dan hasil kerja yang diberikan?

Our Social Media :

Email address :

Need help?

0857-7562-0778

© 2025. All rights reserved.

Mobile number :

aditidevelopmentcenter@gmail.com

Consultation (WA) :

0857-7562-0778

address :

Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.

Group :