Tiket.com dan Tantangan Baru Dunia Kerja Digital

Ketika Terlihat Sibuk Belum Tentu Produktif

KARYAWANPERUSAHAANPENGEMBANGAN KARYAWAN

Andhika Buana

8/19/20262 min read

Di era kerja digital, produktivitas tidak lagi diukur dari siapa yang paling lama duduk di kantor.

Sebaliknya, teknologi memungkinkan karyawan bekerja dari berbagai lokasi, berkolaborasi secara real-time, dan menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dibanding sebelumnya.

Namun muncul pertanyaan baru:

Apakah semakin sering online berarti semakin produktif?

Belum tentu.

Bahkan dalam banyak organisasi modern, muncul fenomena yang justru mulai menjadi perhatian para peneliti Psikologi Industri dan Organisasi (PIO).

Fenomena tersebut dikenal sebagai Digital Presenteeism.

Dari Presensi Fisik Menjadi Presensi Digital

Dulu karyawan dianggap bekerja jika terlihat hadir di kantor.

Sekarang bentuknya berubah.

Karyawan dianggap bekerja jika:

  • selalu online,

  • cepat membalas pesan,

  • aktif di grup kerja,

  • responsif terhadap notifikasi.

Tanpa disadari, standar baru ini menciptakan tekanan psikologis yang berbeda.

Bukan lagi tekanan untuk hadir secara fisik.

Tetapi tekanan untuk selalu terlihat aktif secara digital.

Ketika Notifikasi Menjadi Gangguan Produktivitas

Bayangkan seorang analis data sedang menyusun laporan bisnis.

Atau seorang programmer sedang mengembangkan fitur baru.

Atau seorang staf HR sedang melakukan analisis hasil assessment.

Semua pekerjaan tersebut membutuhkan konsentrasi mendalam (deep work).

Namun setiap beberapa menit muncul:

  • pesan dari grup kerja,

  • notifikasi Teams,

  • permintaan update,

  • panggilan mendadak,

  • pertanyaan yang sebenarnya tidak mendesak.

Akibatnya fokus terpecah.

Pekerjaan yang seharusnya selesai dalam satu jam bisa membutuhkan waktu dua hingga tiga kali lebih lama.

Secara psikologis, kondisi ini disebut sebagai attention fragmentation.

Otak dipaksa berpindah fokus secara terus-menerus sehingga energi mental terkuras lebih cepat.

Industri Digital Menghadapi Tantangan Ini

Sebagai salah satu Online Travel Agent (OTA) terbesar di Indonesia, Tiket.com beroperasi dalam industri yang bergerak sangat cepat.

Pelanggan melakukan transaksi selama 24 jam.

Tim produk, teknologi, pemasaran, layanan pelanggan, dan operasional harus terus berkoordinasi agar layanan tetap berjalan optimal.

Dalam lingkungan kerja seperti ini, komunikasi digital menjadi kebutuhan utama.

Namun tantangannya adalah:

Bagaimana menjaga kolaborasi tetap cepat tanpa mengorbankan fokus kerja karyawan?

Karena organisasi yang terlalu menekankan kecepatan respons berisiko menciptakan budaya kerja yang membuat karyawan merasa harus selalu siaga.

Mengapa Ini Penting bagi Perusahaan?

Banyak perusahaan mengira bahwa karyawan yang paling cepat membalas pesan adalah karyawan yang paling produktif.

Padahal penelitian mengenai produktivitas modern menunjukkan bahwa pekerjaan bernilai tinggi justru sering lahir dari waktu fokus yang tidak terganggu.

Inovasi.

Analisis.

Perencanaan strategis.

Pemecahan masalah.

Semuanya membutuhkan ruang berpikir yang tenang.

Jika sebagian besar energi habis untuk merespons notifikasi, maka kualitas pekerjaan bisa menurun meskipun aktivitas terlihat sangat tinggi.

Produktif Bukan Berarti Selalu Online

Dalam Psikologi Industri dan Organisasi, performa kerja tidak hanya diukur dari aktivitas.

Tetapi dari hasil yang dihasilkan.

Karena itu organisasi modern mulai bergeser dari budaya:

"Siapa yang paling cepat merespons?"

menjadi:

"Siapa yang menghasilkan dampak terbesar?"

Perubahan cara pandang ini penting agar karyawan tidak terjebak pada aktivitas semu yang terlihat sibuk tetapi tidak menghasilkan nilai yang signifikan bagi organisasi.

Pelajaran bagi Perusahaan

Di era digital, tantangan terbesar bukan lagi membuat karyawan bekerja lebih keras.

Melainkan membantu mereka bekerja lebih fokus.

Karena semakin banyak notifikasi tidak selalu berarti semakin banyak pekerjaan yang selesai.

Dan semakin cepat membalas pesan belum tentu menghasilkan keputusan yang lebih baik.

Terkadang produktivitas terbaik justru muncul ketika seseorang diberi ruang untuk berpikir tanpa gangguan.

Teknologi diciptakan untuk membantu manusia bekerja lebih efektif.

Bukan membuat manusia merasa harus selalu tersedia setiap saat.

Organisasi yang mampu menyeimbangkan kolaborasi dan fokus kerja akan memiliki peluang lebih besar untuk menjaga produktivitas sekaligus kesehatan psikologis karyawannya.

Karena pada akhirnya, karyawan yang terus-menerus terlihat sibuk belum tentu produktif.

Tetapi karyawan yang memiliki ruang untuk fokus sering kali menghasilkan kontribusi yang jauh lebih besar.

Pertanyaan untuk Anda

Di tempat kerja Anda, produktivitas lebih sering diukur dari hasil kerja atau dari seberapa cepat seseorang merespons pesan dan notifikasi?

Our Social Media :

Email address :

Need help?

0857-7562-0778

© 2025. All rights reserved.

Mobile number :

helloadc@aditidevelopmentcenter.com

Consultation (WA) :

0857-7562-0778

address :

Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.

Group :