Xabi Alonso dan Person–Environment Fit: Mengapa Orang yang Kompeten Belum Tentu Cocok di Semua Lingkungan?
Pernah melihat seseorang yang terlihat sangat kompeten di satu tempat, tetapi kesulitan menunjukkan performa terbaiknya ketika berpindah ke tempat lain?
KARYAWANPENGEMBANGAN KARYAWANKRISIS KEPERCAYAAN
Andhika Buana
10/20/20266 min read


Fenomena ini bisa terjadi di dunia kerja, bahkan pada individu dengan pengalaman dan rekam jejak yang kuat. Salah satu contoh yang menarik untuk dibahas adalah perjalanan Xabi Alonso sebagai pelatih sepak bola.
Alonso membuktikan kapasitasnya ketika menangani Bayer Leverkusen. Pada musim 2023/2024, ia membawa klub tersebut meraih gelar Bundesliga pertama dalam sejarahnya dengan catatan tidak terkalahkan sepanjang kompetisi liga. Pencapaian itu membuatnya dipandang sebagai salah satu pelatih dengan prospek besar di sepak bola Eropa.
Namun, perjalanan berikutnya tidak berjalan semulus itu. Alonso meninggalkan Real Madrid pada Januari 2026 setelah kurang dari delapan bulan menjabat sebagai pelatih kepala. Sejumlah laporan menyebut adanya perbedaan terkait pendekatan taktik dan dinamika internal tim, meskipun kepergiannya secara resmi diumumkan sebagai kesepakatan bersama.
Pada Mei 2026, Chelsea mengumumkan penunjukan Alonso sebagai manajer baru, dengan masa kerja yang dimulai pada Juli 2026. Dalam pernyataan resminya, Chelsea menyoroti pengalaman, kualitas kepelatihan, model permainan, dan kemampuan kepemimpinan Alonso sebagai pertimbangan penunjukan tersebut.
Perbedaan perjalanan ini memunculkan pertanyaan menarik: jika Alonso memiliki kompetensi dan pengalaman yang terbukti, mengapa hasil kerjanya tidak selalu sama di setiap klub?
Dalam perspektif Psikologi Industri dan Organisasi, salah satu konsep yang bisa digunakan untuk memahami pertanyaan tersebut adalah Person–Environment Fit.
Person–Environment Fit: Ketika Kompetensi Bertemu dengan Lingkungan yang Tepat
Person–Environment Fit merupakan konsep yang membahas kesesuaian antara karakteristik individu dan lingkungan tempat individu tersebut bekerja.
Lingkungan yang dimaksud bukan hanya fasilitas atau suasana kantor, melainkan juga tuntutan pekerjaan, budaya organisasi, dukungan dari atasan, hubungan dengan rekan kerja, serta ruang yang tersedia bagi seseorang untuk menjalankan perannya.
Seseorang bisa memiliki kemampuan yang baik, tetapi belum tentu dapat menggunakannya secara optimal di setiap lingkungan. Sebab, performa kerja tidak hanya dipengaruhi oleh kompetensi individu, tetapi juga oleh bagaimana kompetensi tersebut berinteraksi dengan tuntutan dan kondisi organisasi.
Dalam kasus pelatih sepak bola, kemampuan merancang taktik saja tidak cukup. Pelatih juga perlu membangun komunikasi dengan pemain, memperoleh dukungan organisasi, menyelaraskan strategi dengan karakteristik skuad, serta menghadapi ekspektasi manajemen dan suporter.
Hal serupa terjadi di perusahaan. Karyawan yang mampu menyusun strategi belum tentu dapat bekerja optimal apabila kewenangannya terbatas, prioritas organisasi berubah-ubah, atau cara kerjanya tidak selaras dengan sistem yang berlaku.
Artinya, kompetensi menjelaskan apa yang mampu dilakukan seseorang, sedangkan kesesuaian dengan lingkungan turut menentukan seberapa jauh kemampuan itu dapat diterapkan.
1. Bukan Hanya Soal Kemampuan, tetapi Juga Tuntutan Pekerjaan
Salah satu aspek Person–Environment Fit adalah Person–Job Fit, yaitu kesesuaian antara karakteristik individu dan pekerjaan yang dijalankannya.
Kesesuaian ini dapat dilihat dari dua sisi.
Pertama, apakah kemampuan individu sesuai dengan tuntutan pekerjaan? Seseorang perlu memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas yang relevan untuk menjalankan tanggung jawabnya.
Kedua, apakah pekerjaan menyediakan hal-hal yang dibutuhkan individu agar dapat bekerja dengan baik? Hal tersebut dapat berupa sumber daya, dukungan, kewenangan, maupun kesempatan untuk mengembangkan kemampuan.
Kedua sisi ini penting karena ketidaksesuaian bisa terjadi dalam berbagai bentuk.
Bayangkan seorang manajer yang terbiasa membangun tim melalui kolaborasi, diskusi terbuka, dan pembagian tanggung jawab yang jelas. Ia kemudian ditempatkan di organisasi yang memiliki proses pengambilan keputusan sangat terpusat, tetapi tetap dituntut bertanggung jawab penuh atas hasil timnya.
Masalahnya belum tentu terletak pada kemampuan manajer tersebut. Bisa jadi, terdapat ketidaksesuaian antara tuntutan perannya, kewenangan yang diberikan, dan cara organisasi menjalankan pekerjaan.
Dalam konteks Xabi Alonso, perbedaan situasi di Bayer Leverkusen dan Real Madrid dapat menjadi pintu masuk untuk membahas hal ini. Namun, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa Alonso tidak cocok dengan Real Madrid hanya berdasarkan durasi kepemimpinannya. Untuk memastikan penyebabnya, diperlukan pemahaman lebih lengkap mengenai ekspektasi klub, kondisi skuad, dukungan manajemen, dan proses pengambilan keputusan di dalam organisasi.
Pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa menilai seseorang hanya dari hasil akhirnya dapat membuat organisasi melewatkan faktor penting yang ikut membentuk hasil tersebut.
2. Budaya Organisasi Bisa Memengaruhi Cara Seseorang Bekerja
Selain kesesuaian dengan pekerjaan, ada pula Person–Organization Fit, yaitu kesesuaian antara karakteristik individu dan organisasi, termasuk nilai serta budaya kerja yang berlaku.
Setiap organisasi memiliki cara tersendiri dalam menentukan prioritas, mengambil keputusan, berkomunikasi, dan mengukur keberhasilan. Cara kerja yang efektif di satu organisasi belum tentu dapat diterapkan dengan hasil yang sama di organisasi lain.
Sebagai contoh, seorang pemimpin mungkin terbiasa memberikan ruang kepada tim untuk mencoba pendekatan baru. Namun, ia bekerja di perusahaan yang sangat mengutamakan kepatuhan terhadap prosedur dan membutuhkan persetujuan berlapis untuk setiap perubahan.
Keduanya tidak otomatis salah. Organisasi dengan regulasi ketat mungkin memang membutuhkan kontrol yang kuat. Masalah dapat muncul ketika pendekatan kepemimpinan yang diharapkan dari seseorang tidak selaras dengan budaya, sistem, atau kewenangan yang tersedia.
Dalam sepak bola, hubungan antara pelatih, pemain, dan manajemen juga merupakan bagian dari konteks organisasi. Strategi yang dirancang pelatih perlu diterjemahkan ke dalam tindakan pemain, sementara pelaksanaannya dipengaruhi oleh komunikasi, penerimaan terhadap peran, dan kesepakatan mengenai cara bermain.
Menariknya, dalam pernyataan resmi Chelsea pada Agustus 2026, Alonso menekankan pentingnya membangun budaya yang kuat, kepercayaan, dan kebersamaan antarpemain. Menurutnya, hubungan tersebut merupakan bagian penting dari upaya membangun tim yang mampu bersaing.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa budaya dan hubungan di dalam tim merupakan hal yang ia anggap penting dalam membangun performa.
Meski demikian, hal tersebut belum membuktikan bahwa Alonso pasti lebih cocok di Chelsea atau bahwa budaya di Real Madrid menjadi penyebab utama kepergiannya. Keduanya merupakan konteks yang berbeda, dan penilaian mengenai kesesuaian individu dengan organisasi memerlukan informasi lebih dari sekadar hasil pertandingan.
3. Ketika Lingkungan Kerja Tidak Mendukung, Performa Bisa Sulit Berkembang
Dalam organisasi, performa sering kali dinilai melalui indikator yang terlihat: target tercapai atau tidak, proyek selesai tepat waktu atau tidak, dan hasil kerja sesuai standar atau tidak.
Indikator tersebut penting. Namun, ketika hasil tidak sesuai harapan, organisasi juga perlu memahami faktor-faktor yang memengaruhinya.
Apakah karyawan memahami prioritas pekerjaannya? Apakah ia memiliki sumber daya yang memadai? Apakah kewenangannya sesuai dengan tanggung jawabnya? Apakah ia mendapatkan dukungan dari atasan? Apakah koordinasi antartim berjalan dengan baik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu organisasi melihat performa secara lebih menyeluruh.
Misalnya, seorang karyawan pemasaran diminta meningkatkan jumlah prospek perusahaan. Ia memiliki kemampuan membuat konten dan memahami audiens, tetapi tidak mendapatkan akses ke data pelanggan, tidak mengetahui kualitas prospek yang diharapkan tim penjualan, dan harus mengubah arah konten setiap kali ada permintaan mendadak.
Jika target tidak tercapai, apakah masalahnya semata-mata karena karyawan tersebut kurang kompeten?
Belum tentu. Organisasi perlu membedakan kesenjangan kemampuan individu dari masalah proses kerja, keterbatasan sumber daya, ketidakjelasan target, dan koordinasi yang tidak efektif.
Hal ini bukan berarti lingkungan selalu menjadi penyebab kegagalan. Kompetensi, kedisiplinan, dan tanggung jawab individu tetap berperan. Namun, menilai performa hanya dari hasil akhir tanpa memeriksa konteks pekerjaan berisiko menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Dalam kasus Alonso, masa kepemimpinannya yang singkat di Real Madrid tidak cukup untuk membuktikan bahwa dirinya gagal sebagai pelatih. Rekam jejaknya di Bayer Leverkusen juga tidak otomatis menjamin keberhasilan di klub lain. Kedua hal tersebut perlu dilihat dalam konteks tuntutan dan kondisi masing-masing klub.
4. Apa yang Bisa Dipelajari Perusahaan dari Kasus Ini?
Bagi organisasi, Person–Environment Fit dapat menjadi salah satu perspektif untuk mengevaluasi penempatan, pengembangan, dan performa karyawan.
Ada beberapa hal yang bisa diperhatikan.
Pertama, jangan hanya menilai kompetensi saat merekrut atau mempromosikan seseorang.
Perusahaan perlu memahami apakah kemampuan individu sesuai dengan tuntutan peran yang akan dijalankan. Pengalaman sukses di perusahaan sebelumnya merupakan informasi penting, tetapi bukan jaminan bahwa seseorang akan langsung berhasil dalam konteks yang berbeda.
Kedua, pastikan tanggung jawab sejalan dengan kewenangan dan sumber daya.
Karyawan atau manajer tidak seharusnya hanya dibebani target tanpa kejelasan mengenai keputusan yang boleh diambil, dukungan yang tersedia, dan prioritas yang harus dikerjakan.
Ketiga, periksa kesesuaian antara budaya kerja dan cara organisasi mengelola orang.
Budaya organisasi tidak harus selalu sama untuk semua perusahaan. Namun, ekspektasi terhadap perilaku kerja, pola komunikasi, dan proses pengambilan keputusan perlu jelas agar individu dapat memahami cara berkontribusi secara efektif.
Keempat, evaluasi performa berdasarkan data dan konteks.
Ketika kinerja menurun, organisasi perlu mencari tahu apakah terdapat kesenjangan kompetensi, masalah dalam desain pekerjaan, hambatan koordinasi, atau dukungan yang belum memadai. Data kinerja karyawan perusahaan dapat membantu mengidentifikasi pola, tetapi perlu dibaca bersama informasi mengenai proses dan kondisi kerja.
Dengan demikian, evaluasi tidak berhenti pada pertanyaan, “Siapa yang tidak mencapai target?” Organisasi juga perlu bertanya, “Faktor apa yang membuat target tersebut sulit dicapai, dan apa yang bisa diperbaiki?”
Pendekatan ini tidak menghilangkan tanggung jawab individu. Sebaliknya, pendekatan ini membantu perusahaan menentukan intervensi yang lebih tepat: apakah perlu pelatihan, penyesuaian peran, perbaikan proses, peningkatan dukungan manajerial, atau evaluasi terhadap kesesuaian individu dengan pekerjaannya.
Kesimpulan: Orang yang Tepat Membutuhkan Kondisi Kerja yang Mendukung
Perjalanan Xabi Alonso mengingatkan kita bahwa rekam jejak yang baik tidak selalu menghasilkan performa yang sama ketika seseorang berpindah ke lingkungan baru.
Namun, kasus ini tidak bisa dijadikan bukti bahwa satu klub lebih baik daripada klub lainnya, atau bahwa lingkungan tertentu pasti membuat seseorang lebih bahagia. Untuk menyimpulkan hal tersebut, kita membutuhkan bukti yang lebih kuat tentang pengalaman individu dan kondisi organisasi yang bersangkutan.
Dari perspektif PIO, hal yang lebih penting adalah memahami hubungan antara individu dan lingkungan tempat ia bekerja.
Perusahaan tidak cukup hanya merekrut orang yang kompeten. Perusahaan juga perlu memastikan bahwa pekerjaan, budaya, dukungan, dan sumber daya memungkinkan kompetensi tersebut digunakan secara optimal.
Sebab, ketika performa seseorang tidak sesuai harapan, jawabannya tidak selalu sesederhana kurang mampu atau kurang berusaha. Terkadang, organisasi perlu melihat kembali apakah orang tersebut ditempatkan dalam peran dan lingkungan yang tepat.
Kompetensi membuat seseorang mampu menjalankan pekerjaan, tetapi kesesuaian dengan lingkungan kerja turut menentukan apakah kompetensi itu dapat digunakan secara optimal.
Our Social Media :
Email address :
Need help?
0857-7562-0778
© 2025. All rights reserved.
Mobile number :
aditidevelopmentcenter@gmail.com
Consultation (WA) :
0857-7562-0778
address :
Jl. Kalibata Tengah No. 35C RT. 11 RW 7 Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 12740.





Group :
